Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan Keanekaragaman Hayati

                                                        zebara.jpg

Awang Harun Satyana (Eksplorasi BPMIGAS)

Rumit Namun Menarik

Geologi Indonesia begitu rumit namun menarik. Van Bemmelen, penulis The Geology of Indonesia” (1949), sebuah adikarya sampai saat ini, menyebut Indonesia sebagai the most intricate part of the earths surface.Lebih lanjut, van Bemmelen meramalkan bahwa akan banyak kemajuan dalam geosains dihasilkan oleh penelitian-penelitian di Indonesia. Menutup kekagumannya akan Indonesia, van Bemmelen menulis, The East Indies are an important touchstone for conceptions on the fundamental problems of the geological evolution of our planet.

Van Bemmelen tidak berlebihan. Lebih dari 50 tahun kemudian, Robert Hall dan Dan Blundell, para penyunting buku Tectonic Evolution of Southeast Asia (1996), menulis di pengantar bukunya, SE Asia is probably the finest natural geological laboratory in The world. Hall dan Blundell adalah anggota SE Asia Research Group, University of London, sebuah lembaga riset yang telah menekuni penelitian geologi di Indonesia sejak awal tahun 1970an.

Ringkasan tentang pengetahuan geologi Indonesia, termasuk kerumitan dan kemenarikannya, dapat dipelajari dari buku tulisan Rab Sukamto, Pengetahuan Geologi Indonesia : Tantangan dan Pemanfaatan(2000).

Begitu Kayanya

Indonesia pun sangat terkenal akan kekayaan keanekaragaman hayati. Tak kurang dari ilmuwan besar sekelas Alfred Russel Wallace, yang berteman dengan Charles Darwin dan sebenarnya juga sama-sama menemukan teori evolusi, telah menghabiskan waktunya delapan tahun (1854-1862) menjelajah kekayaan fauna usantara.Buku yang terkenal, The Malay Archipelago (1869), telah menggerakkan banyak ilmuwan meneliti keanekaragaman hayati Indonesia.

Bagaimana tidak kaya ? Bayangkan : meskipun Indonesia hanyameliputi 1,3 % luas daratan di Bumi, tidak satu negara pun yangmempunyai begitu banyak mamalia (500 jenis atau 1/8 dari jumlah seluruh mamalia di dunia). Bayangkan : Satu dari enam burung,amfibia, dan reptilia dunia ada di Indonesia. Satu dari tigaserangga dunia ada di Indonesia. Dari setiap lima moluska dunia,dua di antaranya ada di Indonesia. Dan, juga sekitar satu darisetiap sepuluh tumbuhan unia terdapat di Indonesia. Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropik lainnya (Kartawinata dan Whitten, 1991; Primack dkk., 1998).Di Indonesia jugalah bertemunya zone-zone zoogeografi.

Sejarah Geologi Menentukan Kekayaan Hayati

Mengapa terdapat wilayah-wilayah biogeografi yang berbeda-beda di Bumi ini ? Kuncinya terletak pada geologi dan iklim di Bumi kita yang terus berubah (Whitmore, 1981; 1987). Maka, sejarah geologi dan paleoklimatologi akan menentukan asal muasal kekayaan hayati. Nusantara secara geologi dibentuk oleh perbenturan dua massa fragmen benua : Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Sejarahnya dimulai ketika bagian benua selatan Gondwana retak dan terapung ke utara pada sekitar 140 juta tahun yang lalu (tyl) (ujung Yura). Tumbuhan berbunga telah mulai berevolusi pada saat Benua Gondwana terdisintegrasi. Baik flora maupun fauna dapat mencapai Nusantara tanpa perlu menyeberangi air melalui tiga rute : Laurasia, Gondwana via Australia, atau Gondwana via India kemudian diikuti migrasi ke tenggara.

Beberapa kelompok fauna pada saat itu pun bisa terisolasi dan tetap keadaannya seperti ditemukan sekarang. Pada 55 juta tahun yang lalu (Eosen), pecahan fragmen Gondwana membentur Laurasia. Sekitar 40 juta tyl, fragmen Asia Tenggara (Daratan Sunda) telah mencapai khatulistiwa dan menempati posisi yang sama dengan yang sekarang.

Migrasi flora dan fauna Laurasia bisa terjadi di Daratan Sunda tanpa menyeberangi masa air. Migrasi yang sama terjadi juga di zaman Kuarter saat glasiasi menurunkan muka laut sampai 180 meter. Pada 40 juta tyl itu, juga benturan fragmen benua Gondwana dan kerak samudera di Lautan Pasifik telah mengangkat Pegunungan Tengah Papua dan memperluas wilayah Papua. Tentu, ini akan mempengaruhi spesiasi flora dan fauna.

Benturan berikutnya terjadi pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah) saat fragmen-fragmen benua Australia/Niugini membentur Sulawesi. Pada masa itu, fragmen-fragmen Australia membawa flora dan fauna Gondwana dan membentur flora dan fauna Sulawesi Barat yang telah banyak dikolonisasi biota Laurasia. Garis batas Wallace (Selat Lombok ke Selat Makasar) adalah salah satu batas zoogeografi di Bumi yang paling tajam dan paling dramatik yang membatasi zone kontak antara fauna-fauna Laurasia dan Gondwana.

Selama periode Plistosen, semua pulau di sebelah barat Garis Wallace dihubungkan oleh daratan sampai Asia. Oleh karenanya pulau2 ini memiliki jenis fauna yang sama. Papua dan Aru di sebelah timur Garis Wallace berhubungan dengan Australia dengan fauna yang khas Australia. Di daerah Wallace, yaitu Maluku, Sulawesi dan pulau-pulau Nusa Tenggara tidak mempunyai hubungan dengan benua-benua di sekitarnya. Maka daerah Wallace miskin fauna dan flora, tetapi tingkat endemisitasnya (kekhasan) tinggi. Di samping itu, terdapat perpaduan antara biota Asia (Laurasia) dan Australia (Gondwana).

Kekayaan spesies melalui proses spesiasi dan tingkat endemik flora-fauna akan ditentukan oleh ukuran pulau, ketinggian, habitat, dan lokasi geografi. Jumlah spesies di sebuah pulau akan ditentukan oleh luas pulau dan angka perimbangan kepunahan lokal dan migrasi. Pulau besar punya spesies lebih banyak, pulau terisolasi punya spesies lebih sedikit. Tingkat endemisitas banyak dipengaruhi oleh faktor isolasi geografik. Semakin terisolasi semakin endemik. Ketinggian juga mempengaruhi kelimpahan spesies. Semakin tinggi spesies semakin berkurang. Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas dan memahami sejarah geologi (tektonik) suatu wilayah, maka dapat dipahami dan diprediksi bagaimana kekayaan keanekaragaman hayati wilayah tersebut. Sejarah geologi akan menentukan jumlah unit biogeografi.

Mensyukuri Keanekaragaman Geologi dan Biologi Menutup tulisan singkat ini, hendaknya kita sadari bahwa betapa menyenangkan hidup di Indonesia, di tengah begitu banyak keberagaman alam dan budaya. Semoga energi kita tidak terkuras habis oleh beberapa krisis yang tengah terjadi, sehingga kita masih sempat mensyukuri nikmat alamiah yang telah diberikan-Nya.

Semua itu diberikan untuk Indonesia, dan kitalah yang harus mengupayakannya

agar bermanfaat lahir dan batin.***

Published in: on Maret 4, 2008 at 4:57 am  Comments (6)  

The URI to TrackBack this entry is: https://bughibughi.wordpress.com/2008/03/04/indonesia-bagaimana-geologi-mengendalikan-keanekaragaman-hayati/trackback/

RSS feed for comments on this post.

6 KomentarTinggalkan komentar

  1. Minta.. jurnal tentang hubungan geologi ma biologi donk

  2. tidak lengkap dan tdk ada gambar peta benua australia yg ada plaura dan pauna itu saja cukup terimakasih…….

  3. waawwwwwwwwwwwwwwwww dahsyatttttttttttttttt

  4. ada nggak peta zoogeografinya? makasih
    kunjungi web saya di sini

  5. wah ima bngga bgt dgn kekyaan alam yang dimiliki oleh indonesia…………tapi knpa ya????????????kita sebagai warga indonesia g pernah menyadarinya????

  6. yang bener flora ama fauna kaleeeeeeeee…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: