Kepunahan Massal oleh Antipodal Deccan Traps-Chicxulub Impact Crater

impact.jpg

Bukan hal baru yang saya tulis ini, tetapi mencoba memahaminya dengan mengingat plume tectonics dan melakukan revisi rekonstruksi paleo-tektonik, rasanya ada nafas baru dalam memandang problema lama. Maaf, agak panjang tulisannya tetapi semoga ada gunanya.

Menarik mengkaji ulang peristiwa katastrofik di ujung Kapur dan awal Tersier (65 Ma) atau K-T K=Kreide/Cretaceous & T=Tersier) Boundary. Fakta paleontologi menunjukkan 75 % spesies fauna'”tiba-tiba” punah. Teori-teori dikemukakan. Perdebatan pasti terjadi. Tulisan ini menghimpun semua perdebatan yang ada, memberi interpretasi baru-mencoba mengulas kaitan keberadaan antipode, plume tectonics, dan kepunahan massa. Plume tectonics mungkin tidak main-main. Kait-mengkaitnya unik dengan awal dan akhir kehidupan.

jurasc.jpg morfologi.jpg

 

Tidak banyak buku geologi, astronomi, natural history membahas masalah antipode secara detail. Padahal, di solar system antipode, yang memenuhi hukum aksi-reaksi Newton, benar2 terjadi di beberapa planet dan satelit. Misalnya, largest impact basin planet Mars Hellas Plenitia menyebabkan antipode Alba Patera, gunungapi Mars yang sekaligus merupakan gunungapi terbesar di Tata Surya. Atau, Caloris Basin, impact crater terbesar di sebuah sisi planet Merkurius menyebabkan antipode crater di sisi planet yang lain.

Beberapa buku dari Dixon et al (2001) : Atlas of Life on Earth – Barnes & Noble; Desonie (1996) : Cosmic Collisions – Henry Holt & Co.; Marshal (2000) : Space – Marshal Publishing; dan Luhr et al. (2003) : Earth – Dorling Kindersley Ltd. lumayan bagus memberikan beberapa keterangan tentang impact crater dan antipode-nya di Bumi pada saat K-T Boundary (Cretaceous-Tertiary Boundary) dan hubungannya dengan mass faunal extinction di 65 Ma itu – sebuah kepunahan massa paling terkenal di Bumi meskipun bukan yang paling besar.

Antipode adalah sebuah istilah umum/geografi/astronomi dari bahasa Latin dan Yunani untuk menunjukkan posisi sebuah tempat di sisi sebaliknya (180 deg.) dari sebuah bola planet relatif terhadap posisi acuan. Misalnya, sisi antipodal dari wilayah Indonesia adalah Columbia. Artinya, Columbia tepat di bawah Indonesia di sisi planet yang lain dan sebaliknya. Di sebuah globe, tariklah garis bujur dari tempat itu ke arah kutub, melaluinya dan teruskan sampai sejauh 180 deg, itulah antipodenya.

Kepunahan fauna secara masal (75 %) di Bumi di perbatasan Kapur-Tersier telah menjadi topik menarik sejak puluhan tahun. Banyak teori dikemukakan. Kalau dikumpul2kan, bisa digolongkan jadi tiga : (1) katastrofik karena benturan komet/meteor, (2) katastrofik karena volkanisme, dan (3) gradualis karena perubahan iklim akibat massa lautan yang menyurut. Mana yang benar ? Saya pikir, semuanya benar, tetapi ada yang paling dominan dan bisa jadi semuanya berkaitan.

lokasi.jpg

Berkat penelitian oil companies di sekitar GOM (Gulf of Mexico) tahun 1980an, maka ditemukanlah sebuah kawah sangat besar dengan diameter 180 km di utara Tanjung Yucatan Mexico terkubur dalam sedimen setebal 2000 meter. Disebutlah kawah itu Chicxulub. Data image gravity dan magnetik dari Luhr et al. (2003) sangat spektakular menunjukkan keberadaan kawah itu. Di sekelilingnya sampai ke
Kuba, Haiti, San Luis, dan Dallas sekarang ditemukan impact wave deposits berupa boulder2 dan data petrografik menunjukkan ciri khas shocked quartz (coesite Shoemaker) pada deposit itu, suatu indikasi meteorite impact. Bahkan di Haiti ditemukan lapisan tektit – deposit hasil meteorite impact setebal ½ meter. Semua dating absolut menunjukkan umur 65 Ma untuk deposit2 ini. Dan, di banyak tempat di dunia ditemukanlah lapisan tipis kaya mineral iridium menyisip di antara lapisan2 K-T Boundary, juga lapisan hitam yang mengindikasi sisa
jelaga kebakaran skala global. Tidak banyak sumber platina iridium di Bumi, sumbernya hanya banyak di meteorit. Bagaimana mengartikan
semua ini ? Sebuah meteorit yang diyakini berdiameter 10 km telah menghantam Bumi pada 65 Ma di sekitar Teluk Meksiko sekarang, mengangakan kawah selebar 180 km, menyebabkan kebakaran global, dan akhirnya memunahkan 75 % spesies fauna saat itu yang sedang didominasi kaum dinosaurus. Penganut teori kepunahan K-T Boundary akibat meteorite-impact yang dipelopori ayah-anak Luis Alvarez & Walter Alvarez (Luis adalah ahli fisika dan Walter adalah geologist) mendapatkan buktinya dan inilah teori yang paling banyak dianut saat ini.

Di sisi planet yang lain, di anak benua India sekarang, terdapatlah sebuah plato yang seluruhnya disusun basalt seluas 500.000 km2 (kira-kira hampir seluas Kalimantan di luar Sarawak-Sabah). Inilah Deccan Traps atau Deccan Plateau. Radiometric dating memberikan umur persis 65 Ma. Geologist berpikir, untuk menghasilkan flood basalt sebanyak itu (lebih dari 2 juta km3) tentu butuh waktu volkanisme yang lama. Sayangnya, radiometric dating menunjukkan bahwa volume sebanyak itu hanya dihasilkan dalam waktu satu juta tahun saja,
sangat singkat dalam skala waktu geologi. Dalam hitungan volkanologi normal, tak mungkin sesingkat itu menghasilkan flood basalt seluas dan sebanyak itu. Maka para penganut teori kepunahan massa akibat katastrofik volkanisme mendapatkan kartu as-nya. Letusan volkanik di Deccan telah menyebabkan perubahan lingkungan global, hujan asam, volcanic winter akibat sun blocking (seperti 3 hari gelap saat erupsi Krakatau Agustus 1883), dan efek2 domino lainnya yang akhirnya menyebabkan kepunahan massa.

Mana yang benar, meteorite impact 65 Ma atau Deccan flood basalt voluminous eruption 65 Ma yang menyebabkan global mass extinction ? Dua-duanya bisa benar dan bahkan saling berhubungan sebab-akibat. Maka, sebuah teori elegan tetapi sangat kontroversial diajukan : meteorite/comet collision di Chicxulub-Teluk Meksiko telah menyebabkan erupsi volkanik skala besar di Deccan-India dalam
mekanisme antipodal effect. Dan kedua efek katastrofik ini telah mengubah lingkungan global yang menyebabkan kepunahan masal di K-T boundary.

Sebuah problem timbul. India bukan pada posisi antipodal Teluk Meksiko. Posisi antipodal Teluk Meksiko sekarang ada di tengah Lautan Hindia di BD Indonesia di sekitar Pulau Cocos. Atau, Deccan eruption akan memerlukan impact crater yang lain yang bukan dari Teluk Meksiko, tetapi di Lautan Pasifik pada tepi timur Lempeng Nazca di offshore barat Bolivia. Tidak ada tanda-tanda impact-crater di offshore Bolivia ini. Teori antipode punya problem…, begitu kata publikasi yang ada.

Benarkah punya problem ? Saya rasa tidak. Kembalikan saja ke posisi tektonik massa benua dan lautan pada sekitar 65 Ma. Antipodal position 65 Ma mestinya tidak diplot pada globe 0 Ma, tetapi pada globe 65 Ma. Maka akan terlihat bahwa saat itu India belum di tempatnya sekarang dan belum membentur Eurasia dan membentuk suture Cimmerian. India micro-plate saat itu ada di tengah Lautan Hindia di selatan di antara Afrika dan Indonesia. Dan Teluk Meksiko pun belum pada bentuknya sekarang, North America masih terbelah dari Canada ke Teluk
Meksiko oleh Cretaceous giant seaway. Antilles Arc belum ada dan South America belum menyambung ke North America melalui tanah genting Panama.

chixpic1.jpg chixpic2.jpgchixpic3.jpgchixpic4.jpg

Komet/meteorit jatuh di proto-Teluk Meksiko dan menggoncangkan Bumi dengan gelombang kejut ke seluruh globe (shock-wave). Gelombang kejut ini telah mengganggu kesetimbangan fluida di mantel bahkan outer core Bumi. Maka mantle plume bergerak berupa pasangan head dan tail plume menjurus ke posisi antipodal impact crater Chicxulub saat itu yaitu ke wilayah Lautan Hindia di antara Afrika dan Indonesia. Head plume menyebabkan volkanisme flood basalt dengan akar panjang ke dalam mantel di ujung tailnya. Erupsi basalt besar-besaran membanjiri kawasan seluas 500.000 km2 yang sekarang berupa Deccan Plateau di India, saat itu India microplate tengah terapung di atas kerak samudra Lautan Hindia bergerak ke utara. Massa flood basalt sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu hanya bisa diterangkan dengan plume tectonics, bukan oleh normal volcanology. Meteorit impact dan volkanisme skala global pada 65 Ma itu telah cukup mengubah lingkungan yang hostile untuk semua makhluk hidup.

Sebuah implikasi akan muncul dari interpretasi ini. Kalau benar antipodal Chicxulub
ada di sekitar Cocos Island, artinya India saat 65 Ma ada di sekitar Cocos island sekarang, maka India sebelum retak harus bersatu dengan bagian barat Australia, bukan dengan bagian timur Afrika seperti kebanyakan rekonstruksi sekarang. Saya jadi ingat rekonstruksi Carey (1956), salah satu dari sedikit publikasi yang menaruh posisi paleotektonik India ke Australia dan bukan ke Afrika.

Lepas dari implikasi itu, Deccan Traps memang antipodal Chicxulub Crater. Problem yang ada timbul karena plotting antipodal position tak dilakukan pada globe 65 Ma. K-T Boundary Mass Extinction adalah kerja sama berdua antara extra-terrestrial astroblem di Chicxulub dan terrestrial volcanism di Deccan Traps.

By : Awang Harun Satyana

sumber : IAGInet / 4 Nov 07
Foto dan link : browse di internet

Published in: on November 5, 2007 at 9:38 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://bughibughi.wordpress.com/2007/11/05/kepunahan-massal-oleh-antipodal-deccan-traps-chicxulub-impact-crater/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: