FORMASI BOJONGMANIK

Nama Bojongmanik diambil dari nama kota kecamatan di Banten Tengah. Anonymous (1939) dan van Bemmelen (1949) menamakan satuan ini sebagai Bojongmanik Bed. Van Es (1925) menamakan satuan ini ” Midden Palembang Lagen” berdasarkan kesamaan ciri-ciri litologi dan umurnya dengan Formasi Palembang Tengah (sekarang Formasi Muara Enim), yang ada di Sumatra Selatan. Koolhoven (1930) menamakannya “Midden Bojongmanik Lagen” atau “Koolformatie” yang didasarkan atas kandungan batubara muda (“bruinkool”). Pemberian nama Formasi Bojongmanik yang pertama adalah Effendi (1974), yang kemudian di bakukan oleh Siswojo (1976).Penyebaran dan Ketebalan

Di daerah tipenya Siswojo (1976) mendapatkan ketebalan 350 m. Koolhoven (1930) menafsirkan ketebalan 500 m – 600 m. Dari pengukuran di Sungai Ciberang di Jasinga didapatkan ketebalan 625 m (Sanda, 1979). Formasi Bojongmanik merupakan endapan khas Blok Banten, khususnya cekungan Rangkasbitung. Kearah timur di Leuwiliang satuan ini berubah fasies menjadi endapan marin dari Formasi Cibulakan.

Lokasitipe dan Stratotipe

Siswojo (1976), Effendi ( 1974) memakai Bojongmanik sebagai lokasitipe untuk satuan ini (gambar 1), sesuai dengan penamaan yang diberikan oleh koolhoven (1930). Bojongmanik merupakan kota kecamatan di Banten Tengah, termasuk kabupaten Rangkasbitung dengan koordinat 106° 12’B.T. dan 6° 32′ L.S (gambar. 2).

fm-bojongmanik.jpg Gambar.1. Lokasi Formasi Bojongmanik

Siswojo (1976) membuat tipe satuan yang berbentuk stratotipe gabungan di S. Cimuli, S. Cibeureum dan S. Cibeunyeur, semuanya di Bojongmanik.

Ungkapan Morfologi

Formasi Bojongmanik umumnya menempati topografi yang rendah.

Ciri Litologi

Di lokasitipe, yang merupakan stratotipe gabungan dari singkapan di S. Cimuli, S. Cibeunyeur dan S. Cibeureum (gambar 1), formasi ini terdiri dari perselingan antara batupasir tufaan , berwarna abu-abu sampai abu-abu kecoklatan, berbutir sedang sampai kasar, terpilah baik, membundar baik, dijumpai adanya lapisan bersusun dan struktur silang siur, kadang-kadang lempungan, mengandung lignit, perlapisan baik, dengan lempung, kadang-kadang pasiran atau tufaan. Batulempung sampai abu-abu kebiru-biruan, banyak fragmen lignit, perlapisan kurang baik, kadang-kadang terlihat adanya penyerpihan. Disamping itu terdapat pula sisipan konglomerat, berwarna coklat, dengan fragmen batuan beku, kwarsa susu, lignit. Napal pasiran umum di bagian bawah dan tengah, warna abu-abu kebiru-biruan, kaya akan moluska.

Pada bagian atas dijumpai breksi tufaan, warna abu-abu sampai coklat kehitam-hitaman, dengan fragmen batuan beku, yang tersemen oleh tufa. Kadang-kadang dijumpai juga fosil kayu yang terkersikkan. Sisipan batubara dengan ketebalan antara 2 cm – 2 m, secara baik tersingkap di utara desa Cimuli dan di desa Bojongmanik, sisipan batubara ini kearah S. Cibeunyeur makin berkurang.

Di daerah Jasinga di barat sampai ke S. Ciberang di timur, Formasi Bojongmanik menunjukkan perubahan fasies yang berangsur. Berdasarkan perbedaan fasies, litologi daerah jasinga – Leuwiliang dapat dibagi menjadi tiga bagian ; daerah barat ( sekitar S. Ciberang dan S. Cimangeunteung ), daerah tengah ( sekitar S. Cibeureum, S. Cidurian bagian utara dan S. Cikasungka ) dan daerah timur ( sekitar S. Cidurian bagian selatan dan S. Cikaniki ).

Di daerah barat, bagian bawah terdiri dari lempung dan serpih, berwarna abu-abu kehijauan, pasiran, tufaan sedikit gampingan dan karbonan, mengandung foram bentos dan plangton, urat kalsit dan nodul gamping “mudstone” berwarna coklat kemerah-merahan. Diatasnya dijumpai juga beberapa sisipan batugamping “boundstone”, tebal antara 1,5 – 3,8 m, berwarna putih kelabu, terdiri dari koral, ganggang, moluska dan pecahan-pecahan foraminifera besar dan kecil, seperti kalsit, sebagai semen. Struktur sediment terdiri dari acakan binatang, lubang-lubang dan butiran mengasar keatas ( coarsening upward ) dimana lempung dan serpih secara berangsur keatas menjadi batupasir, berwarna kelabu, kadang-kadang kecoklatan, tufaan, lempungan, berbutir halus sampai kasar, membundar tanggung, mengadung foraminifera, sering dijumpai urat kalsit serta bersifat gampingan.

Lebih keatas litologi terdiri dari batupasir berselang seling dengan serpih, dimana batupasir makin menebal keatas, berstruktur lapisan bersusun, lapisan silang siur, berwarna kelabu, coklat kemerah-merahan, bersifat tufaan, serpihan, karbonan, berbutir halus sampai kasar, konglomeratan, kadang-kadang mengandung lensa-lensa cangkang moluska, sedangkan serpih berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dengan struktur laminasi, banyak mengandung sisipan tipis dari karbon, dan sisipan batubara muda, yang berwarna hitam kecoklat-coklatan, sedikit gampingan dan mengandung foram bentos.

Paling atas dijumpai batupasir tufaan, lempung, lanau, konglomeratan bersisipan batubara, tipis. Disamping itu terdapat sisipan tufa  berwarna putih coklat, berbutir halus, tebal 0,5 m. Batupasir berwana kelabu kemerah-merahan, kadang-kadang berwarna coklat, tufaan, konglomeratan, lanauan, karbonan, berbutir halus ampai sangat kasar, menyudut sampai membulat tanggung, terdiri dari plagioklas, kwarsa, fragmen batuan beku andesit, mineral mafik, mineral bijih, porositas baik sampai sedang, Struktur sediment terdiri dari lapisan bersusun dengan batas bawah yang jelas, “cross bedding” berskala besar dan kecil, sedangkan batupasir yang berbutir halus sampai sedang terdiri dari struktur silang siur, gelembur gelombang dan laminasi horizontal antara batupasir dengan lanau. Lempung umumnya menyerpih dengan sisipan batubara atau sisipan karbon tipis. Konglomeratan berwarna coklat kelabu, tufaan pasiran, fragmen terdiri dari batuan beku andesitik, kwarsa, plagioklas dengan masadasar batupasir berwarna kelabu coklat dan berbutir halus, pemilahan buruk, kemas terbuka, porositas sedang.

Bagian bawah kadang-kadang mengandung sisa-sisa kayu berwarna hitam coklat. Struktur sedimen terdiri dari lapisan bersusun, lapisan silang siur dengan batas bawah yang tegas berupa suatu bidang erosi. Lempung dan lanau pada umumnya berwarna kelabu ke hitam, pasiran, tufaan, karbonan, dapat di remas, porositas buruk. Di lapangan umumnya terdapat sebagai lapisan-lapisan tipis dengan sisipan batubara (tebal 1 – 4 cm), berwarna hitam coklat, atau sebagai selang seling yang tipis dengan batupasir halus. Tufa berwarna putih coklat, berbutir halus, dan merupakan satu-satunya perlapisan yang terdapat pada urut -urutan batuan yang erdapat di daerah ini.

Di bagian tengah daerah Jasinga – Leuwiliang, bagian bawah ada umumnya sama dengan di daerah barat, yaitu terdiri dari lempung dan serpih dengan sisipan batupasir gampingan dan batugamping, mengandung foram bentos. Kearah atas dijumpai perulangan litologi dari batupasir, konglomerat, lempung dan lanau dengan sisipan batubara setebal 10 cm. Struktur sedimen terdiri dari lapisan bersusun, silang siur cekung, gelembur gelombang dan laminasi pararel.

Diatasnya dijumpai lempung dan serpih berwarna kelabu ke hitam dengan sisipan batupasir dan gamping. Batupasir bersifat tufaan dan mengandung cangkang moluska dan bersifat pasiran. Keatasnya dijumpai selang-seling antara batupasir halus gampingan dengan serpih berwarna kelabu kehitaman, mengandung pirit dan karbon. Struktur terdiri dari lapisan bersusun, laminasi pararel serta flaser. Kemudian diatasnya dijumpai perulangan konglomerat, batupasir tufaan, lempung dan lanau sedangkan di bagian atasnya dijumpai konglomerat berukuran 1- 5 cm, dengan struktur lapisan bersusun, silang siur cekung, dengan batupasir kasar dan lempung sebagai selingan. Banyak di jumpai sisa-sisa kayu pada bagian dasar konglomerat yang merupakan suatu “lag deposit”. Diatasnya dijumpai batu-pasir yang berselang seling dengan serpih dan lempung yang berwarna kelabu, banyak mengandung pirit dan karbon. Pada batupasir dijumpai struktur lapisan silang siur berskala kecil. Disamping itu banyak dijumpai cangkang moluska berupa lensa-lensa. Diatasnya dijumpai perulangan dari batupasir, lanau, lempung, lanau dan konglomerat yang bersifat tufaan dengan sisipan batubara tipis. Sisipan dari tufa yang berwarna coklat putih, berbutir halus, tebal sekitar 0,8 m, dijumpai di lokasi 642. Secara fisik tufa ini sama dengan yang terdapat di daerah barat (di daerah utara cuping). Bersambung
Update 1 Agustus 2007

Published in: on Juli 18, 2007 at 7:56 am  Comments (5)  

The URI to TrackBack this entry is: https://bughibughi.wordpress.com/2007/07/18/76/trackback/

RSS feed for comments on this post.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Apakah punya foto lapangan, kondisi bentang alam lokasi, dan fenomena geologi daerah ini.

  2. waduuh gak punya tuh.. paling cuma foto udara via gugel earth diatas.koordinatnya diambiil berdasar data diatas .

  3. mas bagus juga tolong donk punya data gravity daerah pandeglang n serang ga(sekitar wangun n gn. karang) kalo nggak data2 ttg geothermal

  4. mas, sumbernya dari mana aja? butuh buat referensi nih…

  5. sambungannya mana mas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: