BANTEN BLOCK ( 1 )

Pengantar

Bagian barat Pulau Jawa ini menarik secara geologi, sekarang hampir seluruhnya masuk ke dalam Provinsi Banten. Dan di geologi, wilayah ini pun biasa disebut Banten Block. van Bemmelen sejak tahun 1949 telah menyebut wilayah ini sebagai Banten Block dan membuat batasnya berupa garis hampir selatan-utara dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai Teluk Jakarta. Bukan sekedar garis batas wilayah, ternyata adalah juga garis batas geologi. Kata van Bemmelen, terdapat perbedaan arah struktur yang menyolok antara struktur2 di Banten Block yang didominasi arah Utara-Selatan dengan struktur2 Jawa yang didominasi Barat-Timur. Publikasi2 selanjutnya memang menunjukkan hal itu.

Publikasi2 tektonik terbaru menunjukkan bahwa Pulau Jawa pernah menyatu dengan Sumatra, sehingga orientasi Pulau Jawa pun hampir seperti Sumatra. Lalu sejak sekitar Mio-Pliosen kedua pulau saling berpisah, Pulau Jawa terputar anti-clockwisely sedangkan Sumatra terputar clockwisely, membuka Selat Sunda semakin melebar ke arah selatan mirip2 triangle zone. Penelitian terbaru paleomagnetik Jawa menunjukkan bahwa bagian timur Pulau Jawa (datanya belum lengkap, jadi baru diketahui bagian timurnya saja) pernah menduduki paleo-latitude lebih ke selatan di banding sekarang – jadi membenarkan bahwa Pulau Jawa pernah terotasi anti-clockwisely.

Kelihatannya, pemisahan Sumatra dan Jawa ini meninggalkan banyak “luka” geologi baik di Banten maupun di Lampung, berupa segmented basements di kedua wilayah tersebut yang berarah utara-selatan, sehingga di Banten misalnya ditemukan sistem horst dan graben seperti Ujung Kulon High – Ujung Kulon Low – Honje High – West Malingping Low. Di Selat Sunda, di pusat pemisahan ini, lebih parah lagi segmentasi-nya. Dan kondisi ini diperparah dengan aktifnya Sesar Mendatar Sumatra yang dextral dan Sesar Mendatar Ujung Kulon (di offshore baratdaya Pelabuhan Ratu). Kedua sesar mendatar ini saling berposisi step-over, seperti ber-estafet dari Sesar Sumatra ke Sesar Ujung Kulon. Daerah estafet adalah Selat Sunda, akibatnya akan tebentuk extensional stress pada kedua sesar dextral tersebut di wilayah Selat Sunda, dan terbukalah Selat Sunda melalui mekanisme pull-apart basin, sebagai konsekuensi dua sesar mendatar yang membentuk releasing stepover. Segmentasi kerak di wilayah Lampung, Selat Sunda, dan Banten jelas akan terpengaruh ini, juga pemisahan Sumatra-Jawa.

Konsekuensi lain, adalah banyak sintetic faults yang besar-besar yang juga punya sifat releasing, baik di Lampung dan di Banten. Nah, ini lalu berimplikasi ke “banjir lava basal” di Lampung dan Banten karena sesar2 sintetik ini menjadi konduit untuk lepasnya magma naik ke permukaan. Di Lampung ada Rajabasa dan Sukadana complex, di Banten ada Danau Complex dengan Gunung Karang dan Pulasari puncak2nya. Ini adalah kompleks gunungapi berupa back arc volcanism yang dikontrol sistem sesar yang rifting. Di Selat Sunda sendiri, dua arah sesar utara-selatan dan sesar arah Sumatra berpotongan, dan di salah satu perpotongannya, muncul Gn. Krakatau yang paroxysmal letusannya pada 1883, pantas saja, dikontrol dua sesar.

Lalu karena ada proses penenggelaman di Selat Sunda itu, tertariklah garis palung di depannya lebih ke arah utara, membuat pola konkaf pada palung, suatu hal yang tidak lazim sebab palung secara umum adalah konvex ke arah samudera.

Di luar itu, di Banten Block juga ada Bayah Dome yang terkenal itu, yang batuan tertuanya (volkanik) katanya seumur dengan Jatibarang Fm. di Cirebon. Maka di banyak publikasi ditariklah garis volcanic arc Eosen dari Bayah ke Cirebon. Benarkah semudah itu menghubungkannya ? Mestinya tidak sesederhana itu, maka perlu melihat kembali sejarah keseluruhan Banten Block.

Wilayah Rangkasbitung dan Banten Block selalu menjadi problem pojok SW Java ini. Di situ Teluk Pelabuhanratu membuat belokan tajam dari Bayah-Pelabuhanratu-Ciletuh/Jampang membuat teluk menyiku 90 deg.Lalu kita lihat ke utara ke sebaran terumbu Kep. Seribu yang membuat trend lurus utara-selatan, lalu ke selatan lagi ke Teluk Pelabuhanratu. Nah, mereka membentuk garis lurus – kelurusan. Kita sebut saja Kelurusan Seribu – Jampang…

Menurut sebuah studi, terumbu Kep Seribu terjadi karena menghindari sedimentasi delta Citarum di timurnya. Ini tidak menjawab pertanyaan karena sungai besar yang sama, Cisadane, persis menumpahkan sedimennya di terumbu selatan (Pulau Rambut). Lalu, mengapa kompleks terumbu ini membentuk pola lurus U-S rasanya tak bisa dijawab dengan sedimentasi sungai – sungai di Jawa Barat yang bermuara di utara. Kelurusan U-S pulau – pulau di Kep Seribu mungkin punya kontrol basement high. Dan ini benar, paling tidak itu ditunjukkan oleh peta Noble et al. (1997 -paper joint Arco-Pertamina), sebab di bawah Kep Seribu adalah batas timur Tinggian basement “Seribu Platform”. Maka terumbu tak terjadi ke sebelah timur di utara Teluk Jakarta karena di situ sudah dalam. Walaupun terumbu moderen, pola basement high tetap berpengaruh. Basement High di situ sedalam 0.5 sec TWT.

Sekarang ke selatan kembali ke Pelabuhanratu dan sekitarnya. Batuan beku tertua pertama ada di Ciletuh, Jampang. Batuan tertua kedua ada di Bayah. Formasi – Formasi sedimen tertua juga ada di kedua wilayah ini. Batupasir Walat di utara Jampang Plato yang Early Oligocene dan fluviatil, sebagian penulis mengekivalenkannya dengan Formasi Bayah di Bayah yang berumur sama dan fluviatil juga. Dua tempat ini, Bayah dan Jampang, mengindikasikan bahwa mereka pernah lurus barat – timur. Hanya, sekarang Jampang tergeser ke selatan.

Seperti ada barrier antara Bayah dan Jampang. Sebuah barrier yang selurus dengan trend Kep Seribu. Sebuah barrier yang persis memisahkan sistem volkanik Halimun di Bayah, dan Salak di utara Jampang. Barier Kelurusan Seribu – Jampang. Di situ kelihatannya ada gap basement structure yang besar. Data gravity menunjukkan bahwa konsentrasi milligal yang besar di Jawa Barat ada di Bayah dan Ciletuh/Jampang.

Para ahli berspekulasi ada kelurusan basement dari Pulau Seribu ke Teluk Pelabuhanratu, dan berspekulasi bahwa Bayah dan Jampang dulu membentuk jalur yang sama barat-timur yang lalu tergeser menjadi terpisah seperti sekarang melalui pengaktifan dextral strike-slip yang besar di tepi basement high tadi.

Hal yang lebih kurang sama pernah dikemukakan oleh (1) Baumann et al (1973 – IPA, SW Java Geology) bahwa Bayah-Jampang dulunya menyatu berdasarkan kesamaan geologinya, (2) Soejono Martodjojo (disertasi 1984) bahwa Mandala Banten punya geologi sendiri, dan batas Mandala Banten dan Palung Bogor lebih kurang U-S itu. Dardji yang disertasinya Banten Block (1996 ?) juga pernah menarik batas itu.

Kelurusan Jampang – Kepulauan Seribu tahun 1981 telah disinyalir oleh Djoko Santoso (saat itu masih di Jurusan Teknik Geologi, sekarang di Departemen Teknik Geofisika dan yang sekarang jadi Rektor ITB) melalui kajian gravity yang dipublikasikan di Buletin Geologi ITB, Djoko Santoso saat itu, salah satunya menyimpulkan adanya semacam “sesar besar” berarah Utara – Selatan dari Jampang sampai ke Kepulauan Seribu. Salah satu datanya Djoko Santoso inilah yang kemudian dikembangkan sebagai batas Blok Banten dengan Blok Bogor oleh Martodjojo (1984).

Published in: on April 13, 2007 at 2:48 am  Comments (10)  

The URI to TrackBack this entry is: https://bughibughi.wordpress.com/2007/04/13/banten-block-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

10 KomentarTinggalkan komentar

  1. selamat malam… saya numpang mampir disini..
    Saya mau tanya.. punya peta dan data-data tentang batas wilayah provinsi banten tidak?
    Terutama batas-batas wilayah KEPULAUAN seribu. Dan buat pembaca yang baik… kiranya ada informasi silahkan kirim ke wargabanten@yahoo.com / http://wargabanten.wordpress.com/about

    Terima kasih…

    wuland

  2. wuland >>> was here

  3. Saya tertarik dengan artikel Blok Banten ini, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan meskipun saya bukan orang geologi namun objek ini sangat relevan dengan pekerjaan saya saat ini.

    Saya pernah baca Van Bemmelen (1970) terutama Java and Madura – West Java: di situ diungkapkan bahwa Ujung Kulon dari Honje Ridge secara fisiografi sangat mirip dengan Sumatra dan Pulauipulau di Selat Sunda.

    Hal ini sangat menarik buat saya ketika saya menemukan satu spesies klompok laba-laba yang saya duga baru, saya temukan di kaki bukit Gunung Honje dan semenanjung Ujung Kulon dan bahkan tersebar sampai Pulau Legundi dan sayangnya, saya belum punya data dari Sebesi dan sebuku. sedangkan Krakatu group tidak ditemukan sepesies ini.

    Spesies ini mempunyai kerabat dekat yang ditemukan di gua khususnya di daerah Bogor, SUkabumi dan Sawarna (bayah) Gombong selatan, Nusakambangan, Menoreh. dan kemungkinan Grobogan dan Tuban.

    Yang menarik buat saya, jenis yang ditemukan di Bogor tidak ditemukan di Ujung Kulon dan Legundi namun ditemukan di Krakatau.

    Berkaitan dengan Blok Banten ini, apakah sangat mungkin sebaran jenis baru dari ujung kulon ini dipengaruhi oleh Blok Banten??

    Harapan saya, dapat memperoleh data dari Sebesi atau hutan disekitar RajaBasa.

    Demikian komentar saya, semoga dapat menambah wawasan baru buat saya karena bagimanapun biologi tidak pernah lepas dari geologi.

    terima kasih

    Cahyo Rahmadi;
    further comments please contact on : cahyo.rahmadi@gmail.com

  4. Wulan…
    Saya tidak mempunyai data – data tersebut, nanti deh kalo ada saya kirim secepatnya

    Terima kasih

  5. artikel dari saudara :
    Cahyo Rahmadi;
    further comments please contact on : cahyo.rahmadi@gmail.com

    Sepertinya emang petualang sejati… Salam kenal ya Kang Cahyo.. Kapan2 kalau jalan ke Banten, saya yang pandu deh.. (tapi biasanya geolog lebih paham wilayah) hii..hii

  6. land
    data yang diminta ga ketemu tuh.udah dicari cari…

  7. Iiiih… jadi ngerepotin…. makasih ya.. Anaknya lucu banget… Gemes deh..!

  8. menurut saya, Fm.Jampang itu tidak ekivalen dengan Fm.Walat dan Bayah, kenapa.dilihat dari umurnya saja sudah beda Fm.Jampang Late Oligosen sampa dengan Middle Miosen, sedangkan Fm.Walat berumur Early Eosen – Late Eosen ) dan karena penyebaran formasi jampang ini dari ujung genteng(daerah Ciletuh)sampai dengan wilayah timur(anggota Genteng Fm.Jampang dan Gabon merupakan ekivalennya dan penyebarannya berarah Barat-Timur, sedangkan Fm.Walat itu berarah relatif Utara-Selatan (searah dengan F,Rajamandala) berdasarkan dari strukturnya daerah yang penyebarannya beraarah Utara-Selatan diJawa itu bearah yang searah dengan saesar Cimandiri, sedangkan Fm.Jampanmg itu berarah Barat Timur (arah strukutrnya saja sudah beda, bagaimana sisitem pengenmdapannya)
    maksih( kebetulan saya sedang study dselatan Jawa Barat Selatan dari ciletuh – Pangandaran)

  9. Artikel yang sangat bagus………

    saya baru tau klo di daerah Bayah itu punya batuan sedimen yg cukup tua,karena tempat itu merupakan kampung halaman saya di Rangkas Bitung..

    Klo boleh saya tanya apakah ada penelitian yang menyatakan bahwa dulu didaerah tersebut merupakan dasar lautan….? karena klo tidak salah di daerah yang di sebutkan di block di atas(khususnya Bayah) terdapat batuan kapur/cadas,yang klo tidak salah juga merupakan jenis batuan yang banyak di temukan di dasar laut..
    Mohon penjelasannya ya….

  10. punten, saya mau tanya, ada gak ya artikel yg mencakup formasi nyalindung atau formasi cimandiri?masih di daerah sukabumi selatan kok..
    butuh bgt untuk tgs akhir…

    regards.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: