BANTEN BLOCK ( 2 )

BANTEN BLOCK ( 2 )

Menurut Soejono Martodjojo Jawa Barat dibagi menjadi tiga mandala pengendapan, yakni : Mandala Paparan Kontinen di utara, Mandala Banten di barat dan Mandala Cekungan Bogor di selatan dan timur.

Mandala Paparan Kontinen di utara mempunyai batuan dasar berupa batuan metamorf, berumur Jura – Kapur dan batuan granit berumur Kapur – Eosen Awal. Agak lebih ke selatan ditemukan Formasi Jatibarang terdiri dari batuan volkanik yang hampir seumur dengan granit di utaranya. Tidak selaras diatas Formasi Jatibarang dan batuan dasar terdapat endapan laut dangkal dari umur Miosen Awal sampai Resen dengan tebal hamper 4000 m, umumnya terdiri dari lempung, pasir dan gamping.

Mandala Banten terdiri dari tiga system pengendapan. Bagian terbawah dicirikan oleh endapan darat sampai laut dangkal, tebal 800 m, diikuti oleh breksi dan tufa, yang mekanisme pengendapannya berupa aliran gravitasi, tebal 1500 m. Sistem ketiga berupa endapan laut dangkal, tebal 1000 m yang berumur Miosen Tengah.

Mandala Cekungan Bogor didasari oleh mélange yang ditutupi endapan laut dalam berupa endapan lereng bawah terdiri dari lempung dan pasir kwarsa dengan sisipan breksi, kaya fragmen batuan metamorf dan beku ultrabasa, termasuk pada Formasi Ciletuh, tebal 1400 m.

Endapan terbawah Cekungan Bogor dimulai oleh Formasi Bayah, terdiri dari pasir kwarsa dan lempung dengan sisipan batubara ( tebal maksimal 80 Cm ), berumur Eosen Tengah sampai Akhir dengan lingkungan pengendapat darat sampai laut dangkal. Satuan ini ditutupi secara tidak selaras oleh endapan laut dangkal, Formasi Batuasih tebal 150 m yang terdiri dari lempung dan Formasi rajamandala yang terdiri dari gamping, tebal 90 m, umur Oligo – Miosen. Diatas endapan ini berupa endapan aliran gravitasi, dimulai oleh Formasi Jampang terdiri dari breksi dan tufa, tebal 1000 m, umur Miosen Awal. Nama Andesit Tua sering diberikan untuk satuan ini. Di daerah utaranya seumur dengan Formasi Jampang adalah Formasi Citarum, terdiri dari tufa dan greywacke tebal 1250 m. Kedua satuan ini merupakan satu sistem kipas laut dalam, dimana Formasi Jampang adalah bagian dalam dan Formasi Citarum merupakan bagian kipas luar. Diatas Formasi Citarum Diendapkan Formasi saguling terdiri dari breksi, tebal lebih dari 1500 m, umur Miosen Tengah. Diatasnya ditutupi oleh Formasi Bantargadung, terdiri dari lempung dan greywacke berumur Miosen Tengah bagian akhir, tebal 600 m. Endapan termuda di Cekungan Bogor berupa breksi, berumur Miosen Akhir termasuk Formasi Cigadung di bagian Lembah Cimandiri dan Formasi Cantayan di bagian utara cekungan.

Dari sisi batuan volkanik (igneous)-nya, Honje Complex terdiri dari 3 kelompok, secara urutan umur adalah (1) Honje volcanics, andesitic-basaltic yang berumur 10 – 11Ma (bertepatan dengan mulai membengkoknya pelurusan Sumatra – Jawa di Selat Sunda), (2) dacitic tuff dan associated rhyolite complex, yang dalam sebuah paper di sebut sebagai Cibaliung Tuff, berumur 4.95Ma (Jawa dan Sumatra sudah memisah), serta (3) basalt flows yang menorobos zona-zona struktur sebagai back arc rift basalt (?), yang ini belum ada dating-nya tapi lebih muda dari Cibaliung Tuff.

Yang menarik adalah adanya time gap sekitar 5 juta tahun antara Honje volcanic dan Cibaliung Tuff dimana tidak ada aktifitas vulkanism. Apakah ini ada kaitannya dengan meredanya tectonic event pada kurun waktu tsb, sehingga volcanism juga mereda?.

Pemboran lepas pantai Banten membuktikan bahwa ketebalan tufa asam ini. Tulisan yang menyeluruh mengenai fisiografi Jawa Barat ditulis oleh van Bemmelen ( 1949 ). Disamping itu beberapa tulisan geomorfologi yang lebih mendalam dibuat oleh Pannekoek ( 1946 ) untuk daerah Pegunungan Selatan yang dinamakannya sebagai Plateu Jampang. Van Bemmelen ( 1949 ) beranggapan bahwa daerah Banten Barat secara fisiografi sangat mendekati Sumatra, dibandingkan dengan bagian Pulau Jawa sebelah timurnya. Beberapa kesamaan gejala morfologi serta banyaknya tufa asam di daerah Lampung dan Banten ( Banten tuff ) telah dijadikan dasar perbandingan ini. Penelitian terakhir oleh Ninkovich dan Donn ( 1977 ) mengenai tufa di Banten dan Lampung yang bersifat asam ( rhyolitic ) ini, menyatakan bahwa aktifitasnya berakhir sekitar 70.000 tahun yang lalu. Penyelidikan ini didasarkan penelitian inti bor dari DSDP ( Deep Sea Drilling Project ) di Lautan Hindia. Beberapa mencapai lebih dari 1750 m.

Published in: on April 11, 2007 at 9:58 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://bughibughi.wordpress.com/2007/04/11/banten-block-2/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Salam kenal mas..

    mas,saya kurang bisa berimajinasi tentang ini. kira- kira, bisa ditampilkan dalam bentuk visual (dalam bentuk peta) ga???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: