Fenomena Gempa Dalam di Pantai Utara Jawa

Gempa yang terjadi pada 9 Agustus 2007 kemarin, ternyata menyita perhatian dari banyak pihak, termasuk dari para ahli geologi kita. Mereka berdiskusi tentang gempa dalam ini di milis IAGInet. Segala macam pendapat berserakan dalam diskusi tersebut. Dari hasil diskusi tersebut, saya mencoba merangkum dengan menghilangkan nama peserta diskusi, karena banyaknya tanya jawab, sanggahan maupun opini yang muncul dari peserta diskusi, agar tidak membingungkan dalam membacanya. Tulisan ini hanya sekedar sharing pengetahuan tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan teori -teori yang dikemukakan.

Tengah asyik mengetik di depan komputer pukul 00.05 WIB malam (09 Agustus 2007), saya merasakan ruangan bergoyang. Gempa ! Pintu bergetar,permukaan air di aqua galon bergoncang seperti ombak, pintu segera saya buka, siap2 kalau mesti keluar rumah, keluarga yang saat itu sedang lelap tertidur saya bangunkan. Kekuatan gempa yang saya rasakan sekitar III-IV MMI. Tak sampai 1 menit, gempa tak dirasakan lagi. Mudah2an ini bukan foreshock. *

Inilah data dari USGS
Earthquake Details
Magnitude 7.5
Date-Time
Wednesday, August 8, 2007 at 17:04:58 (UTC)
Coordinated Universal Time
Thursday, August 9, 2007 at 12:04:58 AM
local time at epicenter Time of Earthquake in other Time Zones
Location
5.968°S, 107.655°E
Depth 289.2 km (179.7 miles)
Region JAVA, INDONESIA
Distances
100 km (65 miles) E of JAKARTA, Java, Indonesia
110 km (70 miles) N of Bandung, Java, Indonesia
135 km (80 miles) NW of Cirebon, Java, Indonesia
140 km (85 miles) NE of Sukabumi, Java, Indonesia
Location
Uncertainty
horizontal +/- 8 km (5.0 miles); depth +/- 11.2 km (7.0 miles)
Parameters
Nst=170, Nph=170, Dmin=545.1 km, Rmss=1.18 sec, Gp= 36°,
M-type=moment magnitude (Mw), Version=7

Bisa dilihat bahwa ini gempa yang kuat, untung berasal dari kedalaman menengah-dalam (hampir 300 km). Kalau dangkal (< 60 km), dengan kekuatan 7.0 SR, bisa dibayangkan bagaimana kerusakan yang akan terjadi di jalur pantura Jawa Barat-Jawa Tengah termasuk kota2 besar macam Jakarta-Cirebon-Pekalongan-Semarang. Gempa, menurut laporan2 yang masuk ke BMG,dilaporkan dirasakan dari Padang-Bali.

Data momen tensor solution dari NEIC USGS menunjukkan bahwa pematahan akibat gempa ini berupa strike-slip faulting dengan komponen thrust berarah strike 323 deg NE dan dip 28 dip.
Gempa berasal dari zona Wadati – Benioff ? Berdasarkan plate tectonic setting Jawa dan Indonesia Barat, pusat gempa ini terjadi jauh di bawah kerak kontinen Laut Jawa di wilayah astenosfer pada zone gempa miring Wadati-Benioff di kedalaman 290 km. Berdasarkan histori kejadian gempa, episentrum2 gempa di wilayah ini akan berasal dari kedalaman sekitar 300 km atau lebih.
Berdasarkan peta kontur kedalaman zone Wadati-Benioff, pusat2 gempa di wilayah pantura Jawa sampai ke Laut Jawa akan lebih dalam daripada 250 km, untuk dapat menimbulkan kerusakan yang besar di kota2 besar di wilayah pantura, maka gempa harus sekuat seperti yang menggoncang Aceh dan sekitarnya Desember 2004 ( 8.9 SR). Semoga tak akan pernah terjadi.

Gempa tidak berhubungan dengan sesar Lembang

Zona Wadati – Benioff di utara Jawa kalo tidak salah lebih dari 500 km .Jadi gerakan subduksi atau sesar ini strike slip atau thrust ? “Kepanjangan” sesar cimandiri, lembang ?

Kalau mengacu ke kontur zone Benioff dari Hamilton (1979) dan Hutchison (1989), kedalaman Wadati-Benioff di utara Jawa semakin dalam ke utara dari sekitar 250 km di garis pantai sampai hampir 600 km.
Dari momen tensor solution yang dipublikasi NEIC-USGS,penyesarannya dominan strike-slip dengan sedikit komponen thrust pada strike 323 deg NE dan dip 28;dipnya yang kurang vertikal bisa disebabkan komponen thrust-nya.Ini gempa dalam, di astenosfer, semua sesar2 besar hanya terbatas di kerak kontinen, sehingga tak ada hubungan dengan sesar manapun.
Tetapi, arah strike-slip 323 deg NE adalah arah Sesar Dextral Pamanukan-Cilacap yang bisa berhubungan dengan Lematang Fault di Sumatra Selatan. Ini sesar besar orde antitetik terhadap sesar utama Meratus-Muria-Kebumen yang tegak lurus terhadap Pamanukan Cilacap. Plotting titik episentrum gempa tengah malam tadi duduk di splay Pamanukan-Cilacap (75 km offshore baratlaut Indramayu). Tetapi karena dalam, menjadi tidak yakin gempa ini berhubungan dengan Pamanukan-Cilacap, walaupun sejajar dan setempat penyesaran gempa-nya. tetapi, jelas tak berhubungan dengan Sesar Lembang atau Cimandiri.

Fenomena Deep Earthquake

Bahwa kemungkinan gempa tidak berhubungan dgn sistem sesar di daratan.Bisa dibayangkan pada kedalaman >250 km, maka besarnya pressure bisa lebih dari 10GPa dengan suhu >1000 derajat. Sehingga sudah tidak rigid lagi, malahan mungkin sudah melting. Tapi toh terjadi gempa juga.
Mekanisme deep earthquake masih menjadi misteri walaupun terdapat beberapa teori yang berusaha menjelaskan mekanisme-nya.Misal, perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu misalnya teori berubahnya serpentine => olivine yg diikuti dengan pelepasan air.

Gempa di laut Jawa ini membawa informasi penting, Yaitu:

1. Gempa tersebut merupakan gempa dalam yang terbesar di laut Jawa.Dengan kedalaman Zona wadati – Benioff di jawa > 250 km, maka terdapat banyak gempa dalam disana. Tetapi ternyata gempa terbesar selama 30 thn yaitu magnitude-nya hanya 6.1 pada thn 1996. Rata-rata M 5 yg hampir setiap 2 bln sekali. Sehingga gempa kali ini yg terbesar sejak 1973 (sumber katalog usgs).

2. Gelombang gempa lebih efektif merambat sepanjang kerak samudera yg menghunjam di bawah jawa. Dan bukan tegak lurus ke atas.Sehingga efek gempa terbesar bukan pada jarak yg dekat dengan episenter tetapi yang dekat dengan kerak samudra,yaitu di sekitar trench atau di pantai selatan. Dan bukan di pantai utara.

3. Terdapat kekhawatiran bahwa stress release dari gempa ini bias mentrigger gempa lain pada sistem sesar daratan. Mis : sesar cimandiri atau sesar lembang.

Untuk zona subduksi temperatur plate bisa sangat dingin sehingga kita mempunyai batuan yang kita kenal dengan nama blue schist facies rock (high pressure low temperature) sehingga masih
memungkin bersifat brittle dan 300 km sering dianggap sebagai batas gempa yang dalam dan umum dijumpai pada benioff zone. Bahkan kita tahu ada gempa yang sangat dalam 660km dan max 800km (hasil tomografi).

Tearing dari subducted plate bukanlah kejadian aneh.Tetapi lebih mengklasifikasikan sesar ini pada oblique convergent. Walaupun cukup menarik apa yang dikatakan bahwa strike dari sesar ini sama dengan sesar yang dijumpai di Sumatra, kalau ini betul berarti merupakan strike-slip yang sangat dalam (sangat jarang).

Mengancam PLTN Muria ?

Karena gempa dalam, pasti bisa dirasakan dalam kawasan yang luas. Dilaporkan, gempa tersebut dirasakan dari Malaysia-Sumatra-Jawa-Bali.
Gempa ini sekaligus bisa membuat kita kuatir bahwa di utara Jawa, walaupun dalam, kekuatan 7.0 SR masih bisa tercapai. Bagaimana efeknya kalau kedalaman sama tetapi kekuatannya 8-9 SR, jelas akan mengancam kota2 di Pantura. Lalu, bagaimana kalau pusat gempa terjadi di utara Semenanjung Muria, tak jauh dari sesar tua yang menghubungkan Meratus-Muria-Kebumen. Ini sesar tua strike-slip sinistral (terjadi oleh oblique subduction di pinggir tenggara Sundaland pada earliest Tertiary) yang jauh sampai ke basement.
Dengan kekuatan yang sama, tetapi ada konduit vertikal berupa sesar ke permukaan, maka propagasi gayanya akan bisa mengaktifkan sesar tersebut. Lalu, bagaimana bila ada PLTN dibangun di dekatnya ? Hendaknya, dengan kejadian gempa besar di utara Jawa ini, kita mesti lebih hati2 menganalisis seismotektonik di sekitar Muria, sebelum memutuskan membangun PLTN di situ.
Di utara Semenanjung Muria pusat2 gempa akan berkumpul di kedalaman 400-500 km, artinya jauh di dalam slab oceanic plate yang masuk di bawah Eurasia continental plate dalam keaadaan menekuk dikelilingi astenosfer. Gempa sebesar 7-9 SR kalau terjadi di sini akan berpropagasi gayanya ke segala arah termasuk ke atas menuju kerak benua Eurasia di bawah Laut Jawa setebal sekitar 60 km. Di wilayah kerak benua ini ada sesar Meratus-Muria yang tegak masuk ke basement kontinen. Sesar ini akan digiatkan ulang sebagaimana halnya Sesar Opak dibangunkan lagi oleh gempa yang berpusat di Parang Tritis 27 Mei 2006.
Goncangan di permukaan di sekitar wilayah sesar akan lebih keras. Kalau ada PLTN di situ, semoga bisa menahannya. Jangan pernah mengabaikan sesar tua, selalu ada ruang dan waktu untuk membangunkannya lagi selama ia menghadap zone konvergensi lempeng..

Penduduk Indramayu tidak merasakan gempa

Ada pendapat bahwa propagasi gaya akan lebih terbuang ke selatan merambat sepanjang subducted oceanic slab dan kemudian muncul di palung selatan Jawa. Ini pernyataan yang logis,sebab perambatan gaya akan lebih gampang di media subducted oceanic slab yang relatif lebih solid dibandingkan lewat astenosfer yang relatif lebih semi-solid atau plastis.

Seperti dilaporkan oleh seorang penduduk di Cilacap dan di Yogyakarta bahwa goncangannya keras sekali, sementara penduduk Indramayu malah umumnya tak merasakan goncangan. Bisa dipahami sebab di bawah Indramayu, kedalaman Benioff hampir 300 km, sedangkan di bawah Cilacap-Yogya mendangkal ke sekitar 100 km.
Sesar Lembang dan Cimandiri kemungkinan masih akan sulit untuk “memungut” rambatan gaya dari utara tersebut sebab kedalaman Benioff di situ masih 150-200 km, dan yakin sesar2 ini punya konduit ke Benioff sampai sedalam itu, paling mereka berhenti di kedalaman <50 km.

Seorang ahli mencoba mengeplot posisi gempa tgl. 9/8/07 berdasarkan atas laporan BMG dan USGS. Keduanya hampir sama. Untuk itu saya merujuk buku kuning “Gravity and Geological Studies in Jawa, Indonesia”, 1978 terbitan Direktorat Geologi. Editor ialah M. Untung dan Y. Sato.
Dari penafsiran data gayaberat hasil pengamatan langsung di lapangan ditemukan sesar dari selatan Cirebon membentang kearah barat-barat laut ( west-west north). Diduga sesar tersebut melanjut ke laut. Gempa tgl. 9/8 di laut berada di sesar tersebut kira-kira 100 km timur dari Jakarta dan juga 100 km barat dari Cirebon dan hanya beberapa puluh km dari pantai pada kedalaman, menurut laporan, 286 km, yaitu di astenosfer.
Kita masih besyukur gempa tidak sangat besar (9 SR). Peristiwa ini sangat baik untuk penelitian yang mendalam.
Episentrum sesar tersebut memang persis duduk di sesar yang di sebut Lematang-Pamanukan-Cilacap pada publikasi2 tentang tectonic indentation Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir ini (publikasi terbaru tentang ini ada di Satyana, 2007, Proceedings IPA Mei lalu, “).
Sesar ini saya bangun dari publikasi2 Pak Untung dkk pada tahun 1970-an,khususnya buku kuning Untung dan Sato (1978). Ketika saya kaitkan dengan sesar besar lainnya di Jawa yaitu Meratus-Muria-Kebumen, maka sesar Cilacap-Pamanukan-Lematang ini menjadi antitetik dextral terhadap Meratus-Muria-Kebumen.

Kalau episentrum gempa semalam 30 km atau kurang, saya percaya kalau gempa tersebut sangat erat berkaitan dengan Sesar Pamanukan-Cilacap; tetapi ini hampir 10 kali lipat lebih dalam, yaitu 290 km. Saya pikir tak ada sesar strike-slip yang sangat besar sekalipun sampai kedalaman ratusan km menembus kontinen dan masuk ke astenosfer. Tetapi, kalau kita punya data mantle tomography di sekitar Laut Jawa, sangat bagus untuk menguji pendapat ini, ujar Pak Awang.

Pelajari gempa dalam

Ini kesempatan yang sangat baik untuk mempelajari gempa, terutama propagasinya dalam dua minggu ini yang menunjukkan migrasi sistematik dari selatan ke utara.

Kalau lihat disini , sepertinya gempa kemarin itu pas di benioff zone ya ? kedalaman wadati benioff zonenya sesuai dengan gempa-gempa sebelumnya, Apakah berarti model penunjamannya yang harus dikoreksi atau gempa itu memang tidak klop dengan penunjaman ?

Sampai sekarang memang yang kita kenal adalah gempa dangkal. Jadi dengan adanya gempa dalam di lepas pantai utara Jawa, kita kaget, walaupun ada beberapa kasus gempa dalam. Waktu masih di S.D. kelas 1 di Tuban ( pantai utara Jawa Timur) ada juga gempa (lindu) yang merobohkan rumah bagian depan seorang penduduk. Kelihatannya rumah bagian depan ini kurang kuat atau kurang kokoh tidak seperti bagian belakangnya. Kejadian kira-kira 60 atau 65 tahun yang lalu. kemungkinan pusat gempa juga dalam seperti gempa Indramayu.

Sesar yang diutarakan disini kedalamannya mencapai 26 km. Di modelkan dari data gayaberat. Memang jauh dari pusat gempa Indramayu. Yang menjadi masalah ialah mengapa banyak orang yang merasakan getarannya sampai di Padang, Lampung dsb. Untuk meneliti ini, mungkin akan menghabiskan waktu (wasting time). Tetapi untuk kepentingan ilmiah, perlu di pikirkan, propagasi getaran yang ditimbulkan suatu energi sebesar 7.5 S.R. sampai berapa jauh? Kalau ada energi lepas, kita tahu bahwa getaran yang ditimbulkannya merambat ke semua arah, antara lain ke atas. Sampai atau tidak getaran tersebut ke sesar yang disebut sebagai sesar geser Lematang – Pemanukan atau sesar berdasar gaya berat? Kalau sampai, dapat menggetarkan sesar tersebut akan merupakan titik sumber energi baru (pelajaran dasar sismik). Ini yang menyebabkan gempa yang kita semua merasakan tempo hari itu. Dapat dimengerti kalau intensitasnya (MMI) kecil, tidak merusak. Ahli ahli dari geofisika mungkin bisa merenungkan masalah ini.

Teori gelombang ARIF

Sesar antitetik tentang penurunan Jateng atas Jabar-Jatim, kelihatan ide orisinil. Gempa Indramayu kedalaman 280-290 km ini pada lempeng subduksi.Tomografi akan banyak bisa membantu. Atas deviasi (error) jarak,gampangnya gempa itu berasal dari 4×70 km. Tujuh lapis Bumi model (batas kedalaman – km): 1. Kerak oseanik 7, 2. lithosfer 70, 3. astenosfer 210, 4. mantel luar 700, 5. mantel dalam 2800, 6. inti luar 5100, 7. inti dalam 6370. Tebal lapisan kontinental 35 km. Lithosfer rigit, lainnya liat hingga cair. Tanpa data gempa, kedalaman lapisan itu tak akan bisa di ketahui, maka orang bisa tahu lapisan-lapisan bumi hingga inti dalam.

Ketika meletusnya Gunung Gamkonora lalu, di sebuah paper memperlihatkan adanya subduksi yang ikuti gelombang ARIF di pulau itu.Gelombang ini adalah kompresi-ekstensi pada jarak suatu konstanta,sekitar kelipatan itu.
Gelombang ARIF pada astenosfer, lateralnya, akan sebabkan lithosfer yang terkompres-terextensikan pereodik sepanjang suatu konstanta 5-7.E+n, dimana n = angka bulat integer. Ini di perlihatkan jarak grup gunung di basemen Cenozoik Jateng-Jatim, berjarak ~ 70 km itu, sejak dari Pojok Tiga, Slamet, Dieng, Merapi, Lawu, Wilis, Arjuno, Bromo, Argopuro, dan Ijen.
Juga dikatakan gunung-gunung di laut (sea-mounth). Untuk basemen yang lebih kompleks, sejak Jabar-hingga Aceh,semakin kompleks dan belum dibuat. Kompleks artinya semakin banyak baris (banjar, jalur, trend, dari kata Arab “syaf”). Banjar gunung Jateng-tim itu, ada ekstensi pada lithosfer, sejarak periodik 70’an km, yang sebabkan adanya rongga, dan menyebabkan cairan di astenosfer bisa naik kepermukaan, yang lalu di sebut gunung.
Seharusnya ada banjar sejajar dengan banjar gunung itu, ke utara dan ke selatan sejarak ~70 km. Makanya basin Bogor – Jateng-Solo-Banyuwangi,di sekitar itu. Kedalaman lithosfer sekitar 70 km. Artinya, sebenarnya lithosfer terpecah-pecah jadi kubus dengan sama sisi.Panjang 70 km, lebar 70 km, tebal (tinggi) 70 km. Karena definisi sesar untuk yang rigit saja, maka tak ada sesar yang tembus astenosfer (cair-liat). Tapi gelombang ARIF menyatukan yang rigit-liat-cair-gas. Temasuk bagian ekstensi (sesar).

Akan lebih gampang melihat jauhnya gempa Indramayu ini,bila : semakin dalam gempa, semakin besar massa (lithosfer-kerak-batuan) yang di gerakkan. Dari hal ini, mudah di mengerti kenapa gempa terasa sampai jauh (Malaka, Jogja, Bali, dll.). Prof Benny menyebutkan, adanya subduksi yang hingga 660 km. Subduksi dalam ini, kelihatannya hanya pada pusat-pusat Siklun Tektonik yang 3 pasang di permukaan bumi itu. Termasuk, Laut Banda.
Tiga pasang itu, seperti yang diduga, tempat utama sigma tektonik di proyeksikan. Ini ada sigma 1, sigma 2, sigma 3. Ketiganya, sebenarnya berasal dari satu pusat sigma, ya pusat bumi. Sesar normal-gravitasi-pun sebenarnya strike-slip, karena semakin dalam, semakin kecil jarak permukaan lapisan bumi. Misal, blok sepanjang permukaan bumi 1 km turun 10 m. Di kedalaman 10 m di bumi itu, maka permukaan buminya sudah kurang dari 1 km. Artinya, sesar turun inipun ya strike-slip. Bisa bilang bahwa semua sesar adalah strike-slip,wrench-fault, global wrench fault, at any scale, at many scales.

Dianjurkan memasang seismometer tiap jarak separo 70 km, sepanjang banjar Sumatra-Jawa-Banda, dan semua banjar gunung, apalagi bisa 1 Skala Richter.lalu harapkan adanya pre-cursor gempa-gempa kecil untuk prediksi kapan kedepannya gempa besar,dengan menggunakan kalender SALAM.

Gempa berasal dari subducted oceanic slab

Seperti kita tahu, zone miring gempa Wadati-Benioff dibangun dari hiposentrum-hiposentrum gempa sejak dari palung, masuk ke bawah benua, sampai ke dalam mantel. Pusat2 gempa ini ternyata setempat dengan menunjamnya kerak samudera di bawah benua. Maka zone gempa Wadati-Benioff membuktikan bahwa memang kerak samudera menunjam di bawah kerak benua dalam suatu konvergensi lempeng benua vs lempeng samudera.

Gempa2 dangkal seperti yang di Aceh Desember 2004, Yogya mei 2006, dan Pangandaran Juli 2006 semuanya memiliki hiposentrum dangkal yang ketika diplot di x-plot depth vs distance untuk memperlihatkan zone miring Wadati-Benioff akan masuk di wilayah overriding continental/accreted crust. Di x-plot NEIC-USGS tersebut digambarkan dalam orange dots.

Gempa Laut Jawa minggu lalu karena plotting-nya persis di kerak samudera yang menunjam di bawah Jawa, maka ini adalah gempa di subducted oceanic slab, bukan di overriding plate/slab seperti gempa2 yang lalu. Jadi, gempa kemarin itu memang bagian dari Benioff zone Jawa, klop dengan penunjaman, dan tak ada yang perlu dikoreksi dengan model penunjaman kerak samudera di bawah Jawa sebab tidak ada yang anomali, bahkan mengkonfirmasi secara definitif Benioff di bawah Jawa. Dari Palung Sunda di selatan Jawa (atau ada yang menyebutnya Palung Jawa), ke utara menuju Laut Jawa, terdapat zone Benioff yang definitif. Di kedalaman yang masih dangkal kemiringan Benioff masih landai, sekitar 26 deg pada 100 km, lalu mencuram menjadi 40 deg antara 150-200 km, dan rata-rata 66 deg pada 200-600 km (Hutchison, 1989 hal. 37).

Kita bisa lihat di penampang Benioff zone NEIC-USGS, terdapat seismic gap zone sekitar 200 km kedalaman tegak pada kedalaman antara 350-550 km. Ini menarik kalau seluruh zone Benioff Jawa dari ujung barat-timur menunjukkan hal yang sama. Menarik sebab seismic gap zone di Benioff di banyak island arc atau volcanic arc lain di dunia biasanya muncul pada zone partial melting 100-200 km (Spicak et al., 2005) : Source region of volcanism and seismicity pattern beneath Central American volcanoes, N. Jb. Geol. Paläont., 236, 149-172), sedangkan ini jauh di 350-550 km. Harus dicek pula apakah lepasnya air dari subducted oceanic slab di kedalaman 100-200 km akan membuat slab tersebut less earthquake-prone sebab di Jawa tak ada ciri-ciri itu.

Cone Effect

Informasi kedalaman 26 km untuk sesar Lematang-Pamanukan-Cilacap,merupakan informasi yang sangat penting sebab, kalau benar, sesar tersebut adalah sesar yang penting dalam tektonik Indonesia Barat. Mengetahui kedalamannya tentu akan membuat analisis2 yang terkait kepadanya dapat menjadi lebih terkontrol.

Semakin gempanya dalam akan semakin luas kawasan guncangannya (walaupun lemah), semakin gempanya dangkal akan semakin sempit kawasan guncangannya (walaupun kuat). Ini pernah digambarkan sebagai cone effect, efek kerucut, dengan menganggap jarak ujung kerucut – pangkal kerucut adalah kedalaman gempa. Semakin jauh ujung-pangkal artinya semakin dalam pusat gempanya, maka semakin luas kawasan guncangannya (sayatan kerucut menggambarkan kawasan guncangan). Semakin dekat ke ujung kerucut, artinya semakin dangkal gempa, maka sayatan kerucutnya semakin sempit, bisa diartikan kawasan guncangan menyempit.

Gempa kemarin pun dilaporkan dirasakan di Padang-Lampung-Cilacap-Yogya-Bali. Kalau kita hubungkan tempat2 tersebut, itu membuat busur yang menghadap titik episentrum di Laut Jawa. Maka, kita bisa menginterpretasikan bahwa propagasi gaya gempa lebih memilih merambat via subducted oceanic slab ke barat-baratdaya-selatan-tenggara, menuju tempat dangkal, akhirnya menuju wilayah2 dekat palung di barat Sumatra dan selatan Jawa – ini sesuai dengan analisisnya Pak Irwan Meilano (seismology, Nagoya Univ.). Jauh perambatan energinya kalau dilihat di data NEIC-USGS
sampai ke seluruh dunia walaupun lama perambatannya beberapa menit-puluhan menit. Saat energi gempa ini merambat ke tempat dangkal, semakin dangkal, sampai ke kedalaman sesar2 besar di daratan (katakanlah 20-30 km ke basement), maka ia bisa membangunkan sesar ini kalau masih cukup besar energinya, dan benar seperti yang ditulis Pak Untung, di sini kemudian reactivated fault ini akan menjadi ‘line source’ selanjutnya.

Gempa dalam pernah terjadi di Kalimantan

Sekitar thn 1997 1998 ?, ketika di Balikpapan terjadi gempa ( 2 kali malah), yang lumayan kuat, pekerja kantoran di gedung tertinggi di sana (gedung BRI), juga merasakan dan berhamburan turun. Dari penelitian Caltex,menyebutkan bahwa ada sesar mendatar di teluk Balikpapan.Jadi kalau kita kaget pada gempa dalam yang jarang terjadi, membuat kita Terheran-heran, bagaimana mungkin Kalimantan bisa juga terjadi gempa (walaupun pada peta gempa yang menunujukkan hal itu, tetapi kerapatannya sangat jarang dengan daerah rawan gempa lainnya di Indonesia.

Sesar mendatar di Teluk Balikpapan itu adalah Sesar Adang, sedangkan di utara Sangata-Bungalun adalah Sesar Mangkalihat.Sesar Adang kadang-kadang masih aktif. Tidak sampai lima titik episentrum pernah ditaruh BMG di jalur sesar ini. Beberapa publikasi (Woods, 1985; Satyana, 1996, 1999, 2003) membuat sesar ini menjadi bagian dari sesar besar mendatar di Indonesia Barat-Indonesia Tengah, yaitu dihubungkan ke TPF (Three Pagoda Fault di Indocina)-Sesar Anambas di utara Natuna-Sesar Lupar di selatan Kuching-sesar2 Piyabung di Kalimantan Tengah-Sesar Adang-Sesar Paternoster-menyeberang ke Sesar Walanae di Sulawesi Selatan-menyeberang ke Flores Sea sampai Sumba sebagai Sumba Fracture. Hubungan ini membuat Sesar Adang kadang-kadang bisa menjadi aktif sebab di ujung tenggaranya (Sumba Fracture) itu adalah retakan besar yang terhubung ke subduction aktif di selatan Nusa Tenggara.

Sesar Mangkalihat, menurut publikasi terbaru berdasarkan data seismik terbaru (Fraser & Ichram, 1999; Puspita et al., 2005) disambungkan ke Sesar Palu-Koro di Sulawesi yang melintas celah laut sempit antara Lembah Palu dan Semenanjung Mangkalihat. Sekali tersambung, maka Sesar Mangkalihat yang tua ini akan menjadi muda kembali saat direaktivasi oleh Sesar Palu-Koro yang sangat aktif pada masa kini sebab sesar ini mengakomodasi slip Pacific Plate ke barat. Jadi, peluang Mangkalihat Fault untuk menjadi penyebab gempa lebih besar dibandingkan Sesar Adang.
Gempa tahun 1997/1998 itu mestinya berhubungan dengan salah satu dari kedua sesar besar di Kalimantan ini.

Kalimantan memang untuk sebagian besar stabil dan aman terhadap gempa, tetapi pantai timurnya, mulai dari Kuaro di utara Meratus-Mangkalihat, kemudian seluruh Sabah merupakan wilayah yang peluang gempanya kadang-kadang terjadi, bisa dicek di peta bahaya gempa baik dari BMG maupun NEIC-USGS. Tidak mengherankan, itu adalah wilayah2 yang secara dinamik paling aktif saat ini di Kalimantan.

About these ads
Published in: on Agustus 14, 2007 at 7:11 am  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: http://bughibughi.wordpress.com/2007/08/14/fenomena-gempa-dalam-di-pantai-utara-jawa/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

One CommentTinggalkan komentar

  1. wah… gawat emang tahun ini penuh dengan bencana..semoga saja… kita sangat berharap bencana itu segera berlalu, dan kita dapat menyongsong tahun 2008 dengan semangat baru..
    hidup indonesiaku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: