KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI JAWA BARAT

PERENCANAAN DAN PENETAPAN
KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI JAWA BARAT

 

Executive Summary


Sumberdaya alam geologi Jawa Barat adalah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui proses ruang dan waktu geologi yang panjang. Salah satu proses yang terjadi dapat meninggalkan komponen geologi yang sifatnya khas, unik, indah, dan langka (tidak dapat ditemukan di setiap tempat) yang bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, sosial, ekonomi, budaya dan pariwisata.
Kawasan di Jawa Barat yang mempunyai ciri-ciri keunikan, khas, dan langka perlu mendapat perhatian di dalam rangka memberikan perlindungan mutlak, yang disebut Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG).

Dalam Kajian ini akan diungkap kondisi geologi dari dua kawasan yang memenuhi kriteria unik, khas, dan langka, yaitu Kawasan Ciletuh di Kabupaten Sukabumi dan Kawasan Gua pawon di Kabupaten Bandung.

1. Kawasan Ciletuh,

Kawasan Ciletuh, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat dikenal dalam dunia ilmu geologi merupakan salah satu dari tiga tempat atau lokasi di Pulau Jawa tempat ditemukannya singkapan batuan tertua yang berumur Pra-Tersier yaitu Zaman Kapur sekitar 55 – 65 Juta tahun yang lalu. Dua lokasi lainnya adalah di Karangsambung Kabupaten Kebumen dan di daerah Bayat Propinsi Jawa Tengah.

Dari hasil inventarisasi dapat diuraikan bahwa karakteristik Kawasan Cagar Alam Geologi Ciletuh adalah sebagai berikut :

  1. Kawasan Ciletuh memiliki morfologi bentukan asal struktur, morfologi bentukan asal fluvial, morfologi bentukan asal laut, menempati suatu lembah yang dikelilingi oleh tinggian menyerupai amphyteater yang membuka ke arah Samudera Hindia menunjukan keunikan dan kelangkaan kawasan ini.

  2. Batuan penyusun Kawasan Ciletuh merupakan komplek melange, yang meliputi :
    - kerabat ofiolit (kelompok batuan ultra basa)
    - kelompok batuan metamorfik
    - kelompok batuan sedimen laut dalam
    - kelompok batuan sedimen benua
    Semua kelompok batuan tersebut terdapat sebagai bongkah-bongkah beraneka ukuran yang terkurung dalam matriks serpih tergerus, dengan kontak antar blok berupa tektonik yang memperlihatkan singkapan bagus dan jarang ditemukan di tempat lain.

  3. Kerabat ofiolit yang ada menunjukan urutan yang tidak lengkap (dismembered ophiolite) merupakan fragmen kecil kerak samudera yang dapat dipakai sebagai bukti proses geologi yang terjadi pada daerah pembenturan penunjaman lempeng samudera (subduksi); dan juga sebagai bukti mata rantai jalur penunjaman berumur Kapur Akhir. (ditempat lain bukti ini jarang sekali ditemukan).

  4. Kerabat ofiolit merupakan susunan petrotektonik perbenturan antar lempeng, sehingga ofiolit berumur tua dapat berfungsi sebagai fosil dalam merekonstruksi jalur penunjaman purba.

  5. Kawasan Ciletuh merupakan kawasan yang memperlihatkan terjadinya pendampingan dua zona yang disusun oleh batuan berasal dari lempeng samudera dan lempeng benua, sehingga kawasan Ciletuh merupakan tempat yang menarik, karena pada satu tempat tersingkap dua penggalan kerak bumi yang sangat berbeda sifatnya.

  6. Kawasan Ciletuh dapat dijadikan sebagai tempat studi petrotektonik bagi pengembangan ilmu geologi, karena ofiolit dapat menjelaskan mekanisme pembentukan prisma akresi melange (proses pembentukan melange).

  7. Kawasan Ciletuh dapat dijadikan sebagai tempat pembelajaran konsep tektonik global baru (new global tectonic) atau tektonik lempeng dengan cara mempelajri fenomena-fenomena yang ada, yaitu fenomena petrologi, asal muasal kerabat ofiolit, struktur kerabat ofiolit, status geotektonik, evolusi tektonik Jawa Barat.

  8. Aspek penunjang berupa terdapatnya flora dan fauna langka serta hamparan pantai yang memunculkan singkapan batuan serta unsur geologi lainnya dengan panorama yang indah, menambah nilai langka, unik dan khas yang perlu dilindungi di kawasan ini.
    Kawasan Ciletuh yang merupakan kawasan berkarakter perbukitan bergelombang hingga landai, memiliki pantai yang indah dengan hamparan pasir putih, karena terdiri atas pasir kuarsa. Deburan ombak yang bagus dan air yang jernih menghadap Samudera Hindia. Kawasan Ciletuh dibagi menjadi tiga blok dari utara ke selatan, yakni Blok Gunung Badak, Blok Citisuk-Cikepuh, dan Blok Citirem-Cibuaya.

  1. Blok Gunung Badak;
    Blok ini berada di bagian paling utara KCAG Ciletuh. Lokasinya dapat dicapai melalui jalan darat dan laut. Jalan darat dengan rute Sukabumi – Bagbagan (palabuhanratu) – Ciemas – Cikadal atau Ciwaru dengan jarak tempuh ± 100 km. Kondisi jalan dari Bagbagan sampai dengan Ciwaru dapat dilalui minibus atau Elf. Dari Ciwaru dilanjutkan dengan roda dua melewati Sungai Cikadal, sedangkan jalan laut dengan motorboat atau perahu.
    Yang termasuk Blok Gunung Badak termasuk pulau-pulau kecil seperti P. Manuk, Pulau Mandra, Pulau Kunti, dan Karang Haji, dengan luas Blok Gunung badak sekitar 1.375 km². Gunung Badak merupakan bukit dengan ketinggian 153 m dpl. Memperlihatkan tiga jalur punggungan yang memancar dari puncaknya masing-masing ke arah barat laut, utara, dan selatan yang masing-masing tersusun oleh komposisi batuan yang berbeda.
    Batuan tertua yang tersingkap di Gunung badak adalah kerabat ofiolit (peridotit, gabro, lava, basalt). Kelompok batuan tersebut merupakan batuan yang berasal dari erupsi pematang tengah samudera (mid oceanic ridge), kelompok batuan ini bukan merupakan intrusi, melainkan berupa alokhton (bongkah besar yang berasal dari tempat lain) yang tersingkap secara tektonik karena pengaruh pergerakan lempeng samudera yang bertumbukan dengan lempeng benua. Selanjutnya pada zona tumbukan tersebut dihasilkan batuan metamorfik seperti filit, amfibolit, sekis, dan serpentinit. Pada daerah tersebut juga dicirikan oleh adanya batuan sedimen laut dalam yaitu graywacke, batugamping, rijang, dan serpih. Secara setempat komplek batuan ini diterobos oleh gabro berupa dike.
    Sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi, Blok Gunung Badak dibagi menjadi 4 (empat) zona inti, dengan zona inti 1 seluas 1,229 km², zona inti 2 seluas 0,107 km², zona inti 3 seluas 0,106 km², dan zona inti 4 seluas 0,102 km², dengan zona penyangga seluas 2.399 km²; batas masing-masing zona inti dan penyangga dapat dilihat pada lembar peta 1.

  2. Blok Citisuk – Cikepuh
    Blok ini terletak di bagian tengah rencana KCAG Ciletuh, dapat ditempuh melalui jalan darat dengan kendaraan roda empat sampai dengan Ciemas, dan dilanjutkan dengan roda dua. Dapat pula ditempuh dengan jalur laut dari muara Sungai Cikadal hingga ke muara Sungai Cikepuh. Geomorfologi berupa perbukitan bergelombang dengan ketinggian antara 50 s/d 250 m dpl. Batuan Pra-Tersier berupa batuan basa, ultra basa, dan metamorfik, lava basalt, gabro, peridotit, dan sekis yang tersingkap di Gunung Beas, Pasir Luhur, dan aliran Sungai Citisuk.
    Di Gunung Beas biasa disebut Formasi Ultra basa karena litologinya didominasi oleh peridotit dan dunit, sementara di Pasir Luhur disebut Formasi Metamorfik karena didominasi oleh sekis. Sedangkan batuan Tersier terdiri atas batupasir kuarsa dengan sisipan tipis batubara, serpih dan konglomerat kuarsit, merupakan daerah yang ideal untuk mempelajari sikuen lingkungan pengendapan dari model fluviatil hingga laut dalam, chanel dan turbidit.
    Blok Cikepuh-Citisuk-Cikopo terdapat empat zona inti dengan zona inti 1 seluas 1,934 km², zona inti 2 seluas 9,039 km², zona inti 3 seluas 2,458 km², zona inti 4 seluas 1,862 km², dengan zona penyangga selua 13,247 km²; batas masing-masing zona inti dan penyangga dapat dilihat pada lembar peta 2.

  3. Blok Citireum – Cibuaya
    Blok ini terletak di bagian selatan rencana KCAG Ciletuh, dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dari Pelabuhan ratu sampai dengan Cibuaya, dilanjutkan dengan roda dua. Blok Citireum – Cibuaya termasuk Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh – Citireum di bawah pengawasan BKSDA Cijaringao. Secara geomorfologi blok ini merupakan perbukitan landai dengan ketinggian 250 m dpl. Aliran Sungai Citirem dan Sungai Cibuaya mengalir ke arah barat bermuara di Teluk Amuran. Lembah yang terbentuk oleh kedua aliran sungai tersebut berbentuk U, yang menandakan proses erosi ke arah lateral lebih dominan.
    Geologi daerah Blok Citireum – Cibuaya terdiri atas lava Basalt yang berumur Pra-Tersier. Lava Basalt dicirikan oleh struktur aliran lava, sebagian membreksi, setempat amigdaloid yang diisi kuarsa dan zeolit dan sedikit ubahan hidrotermal. Satuan ini seolah-olah mengapung dalam satuan batulempung dan filit yang tergerus sebagai masa dasar. Kenampakan lava basalt sebagian berupa lava bantal, yang telah mengalami deformasi, terdapat breksi sesar dan milonitisasi. Selanjutnya batuan di atas ditutupi oleh batupasir kuarsa dengan sisipan tipis batubara, sedikit batugamping terumbu yang diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
    Secara keseluruhan Kawasan Ciletuh telah mengalami proses pencampur adukan batuan, baik melalui aktifitas tektonik maupun sedimenter, yang masing-masing disebut melange tektonik dan mélange sedimenter (olitstostrom). Melange tektonik terdiri atas batuan basa dan ultra basa (ofiolit) yang berumur Pra-Tersier, sedangkan Formasi Ciletuh bagian bawah termasuk mélange sedimenter.
    Setelah mengalami proses tektonik yang merubah berbagai kondisi lingkungan pengendapan, maka akhirnya daerah Ciletuh menjadi daratan pada Plio-Plistosen. Sedangkan proses terjadinya singkapan dalam bentuk ampyiteater adalah akibat longsoran besar yang dipicu terutama oleh tektonik, yang menyebabkan batuan yang menutupinya yaitu Formasi Jampang bergerak ke arah laut. Selanjutnya ditinjau dari aspek perlindungan, Kawasan Ciletuh sejak zaman Belanda telah dikenal sebagai hutan lindung dan dikenal sebagai Suaka Margasatwa Cikepuh, merupakan bagian dari ekosistem hutan pantai. Beberapa panorama alam seperti pantai putih, terumbu karang, dan teluk (Ciletuh dan Amuran) serta tanjungTanaya dan Amuran. Olah raga selancar dapat dilakukan di pantai antara Citirem – Cibuaya ke arah Ujung Genteng. Pantai Pasir Putih merupakan habitat tempat bertelurnya penyu hijau, berbagai jenis flora dan fauna langka masih dijumpai di kawasan Ciletuh.
    Dalam rangka penetapan KCAG Ciletuh perlu adanya koordinasi dengan berbagai pihak dan diantaranya dengan TNI AL Marinir, mengingat daerah sekitar G. Badak merupakan tempat latihan militer, serta BKDA Jabar I mengingat Daerah Ciletuh merupakan Suaka Margasatwa dan Cagar Alam. Dengan demikian penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi lebih ditujukan khusus kepada pengembangan ilmu alam (geoscience) baik geologi, biologi, serta wisata minat khusus yang tidak akan merubah kondisi alam daerah tersebut.
    Pada Blok Citireum ini terdapat dua zona inti dengan Zona inti 1 seluas 2,286 km², penyangga 1 seluas 2,442 km², zona inti dua seluas 2,519 km², zona penyangga 2 seluas 2,677 km², batas masing-masing zona inti dan penyangga dapat dilihat pada lembar peta 3.


2. Kawasan Cagar Alam Geologi Gua Pawon

Pasir Pawon yang secara administratif termasuk ke dalam Desa Gunung Masigit Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung. Pasir Pawon (731,99 m dpl) memperlihatkan bentang alam yang khas dan unik dikenal sebagai geomorfologi Karst. Kesampaian daerahnya mudah dijangkau, karena berada di pinggir jalan Bandung – Jakarta via Cianjur, sedangkan di sekitarnya telah dilakukan penambangan batugamping. Kondisi ini dapat dijadikan alasan lain untuk mempercepat proses penetapan Gua pawon sebagai KCAG.

Pasir Pawon (731,99 m dpl) merupakan bagian kecil dari Kawasan Tagogapu – Citatah yang tersusun oleh batugamping dengan bentang alam berupa bukit-bukit kerucut yang khas biasa disebut kars. Bentangalam demikian memperlihatkan morfologi unik dan eksotik yang langka kita jumpai pada bentangalam lainnya. Di bagian puncak dari Pasir Pawon ini tersingkap sisa-sisa pelarutan batugamping yang menyerupai tugu-tugu batu (dikenal sebagai taman batu). Bila dilihat secara bentuk keseluruhan, bukitnya menunjukkan relatif kerucut dengan bagian puncak membulat, hal ini tidak terlepas dari proses eksokars dan endokars yang terjadi di Pasir Pawon.
Karakteristik Gua Pawon secara geomorfologi dengan terdapatnya endokarst dan eksokarst yang dapat dikelompokkan sebagai World Heritage (warisan dunia). Bentuk sinkhole dan dolina, stalaktit, stalagmit, flow stone, stone garden, lapies atau karren adalah manifestasi proses karstifikasi yang dijumpai di Kawasan Gua Pawon. Gua Pawon di samping proses pelarutan, terjadi pula pengkekaran kuat arah barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya sehingga menghasilkan bongkah batuan aneka ukuran yang di Gua pawon diberi nama Taman Batu, sedangkan di bawahnya terdapat sistem perguaan Gua Pawon.

Beberapa Gua yang dijumpai disebut :

  1. Ruang Lumbungpadi / Sumur Bandung; berada pada koordinat 06°49’28,7”S / 107°26’12,7”T, berada pada ketinggian 576 m dari muka laut. Ruangan yang mempunyai mulut ini dapat diakses melalui pintu masuk yang menghadap ke barat laut, pada ketinggian sekitar 10 m dari jalan desa di depan gua. Mulut guanya mempunyai tinggi 13 m dan lebar 4,5 m. Di dalam ruangan terdapat avent, yang tingginya sekitar 20 m dari dasar gua.

  2. Ruang Angin / Kamar Hiji; berada pada koordinat 06°49’28,0”S / 107°26’10,0”T, di utara Ruang Lumbungpadi yang terletak pada ketinggian 586 m dari muka laut. Atap ruangan cukup luas merupakan hunian koloni kelelawar yang jumlahnya ribuan. Dasar ruangan yang lembab dipenuhi oleh guano yang sebagian besar masih basah. Fermentasi kotoran kelelawar ini menimbulkan bau yang menyengat, dan ruangan ini sudah terbentuk ekosistem mikro.

  3. Ruang Arkeologi / Gua Kopi; merupakan ruangan yang mempunyai pintu masuk menghadap ke utara, dengan lebar 4 m dan tinggi 7 m. Penggalian di dasar ruangan menemukan kerangka manusia prasejarah, artefak, kepingan tulang vertebrata, dan sisa-sisa makanan lainnya.

  4. Ruang Angin / Kamar Tujuh; terletak di utara Ruang Arkeologi, sedikit lebih rendah, dan mempunyai pintu masuk yang menghadap ke utara. Angin dapat bertiup ke dalam dengan leluasa, sehingga udara di dalam ruangan terasa sejuk. Di atap ruangan terdapat avent, sementara dasar ruangannya membentuk slab.

  5. Ruang Peteng / Gua Poek; berada pada koordinat 06°49’22,3”S / 107°26’14,1”T, terletak pada ketinggian 568 m dari permukaan laut. Di dalamnya terdapat lorong sepanjang 15 m. Pintu masuk ruangan berukuran 2 x 5 m menghadap ke utara. Ruangan ini dimanfaatkan sebagai tempat bertapa.

Batugamping yang tersingkap di sekitar Tagog Apu tempat Pasir Pawon berada, terendapkan pada kala Oligo-Miosen (30 sampai 20 Juta tahun yang lalu). Khususnya batugamping di Pasir Pawon memperlihatkan bedded yang disertai fosil koral yang melimpah dengan fasies berupa platy-coral branching-coral boundstone. Lapisan batugamping kaya koral ini banyak berasosiasi dengan foraminifera bentonik. terbentuk pada laut dangkal (open reef shoals) berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah. Pemunculan batugamping tua ini (endapan laut) yang tersingkap di dataran tinggi Bandung (darat) karena proses geologi (stratigrafi, struktur geologi) merupakan singkapan yang langka dan kekhasannya dapat menjadi prototipe facies batugamping, sehingga keterdapatannya bisa dijadikan laboratorium alam bagi perkembangan ilmu kebumian.

Dari aspek hidrogeologi sebagai cabang ilmu geologi, Pasir Pawon ini menjadi sangat penting karena fungsinya sebagai tandon air yang dapat menjadi cadangan air tanah bagi masyarakat sekitarnya. Selain itu, Pasir Pawon dapat menjadi lokasi penelitian untuk pengembangan ilmu hidrogeologi (model air tanah kawasan kars), karena secara umum hidrogeologi kars mempunyai perilaku air yang begitu komplek dan rumit.

Dari aspek penunjang berupa ke-arkeologi-an, komplek Gua Pawon menunjukkan posisi gua Pawon yang menjadi penting untuk penelitian dengan ditemukannya fragmen keramik zaman dinasti Tang (abad VII – X) serta keramik yang lebih muda, selain itu adanya temuan rangka manusia yang berumur ± 5.660 – ±170 BP sampai 9.520 ± 200 B). Budaya masyarakat hingga saat ini pun cukup menarik yaitu berupa tradisi masyarakat masih mensakralkan makam Embah Basar sebagai tokoh penyebaran agama islam yang berkaitan dengan kepercayaan dari Sunan Gunungjati – Cirebon.

Dari aspek hukum khususnya Kepmen 1456 K/20/Men/2000, Pasir Pawon memenuhi persyaratan sebagai wilayah konservasi dan masuk kedalam klasifikasi kars kelas I.
Di dalam rangka penetapan Pasir Pawon sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi, Kawasan ini dibagi kedalam zona inti dan zona penyangga sebagaimana terlapir dalam Peta Terestial Kawasan Cagar Alam Geologi Gua Pawon. Pada zona inti dilakukan pematokan dan menunjukkan luas 0.455 km2.

Pengembangan selanjutnya, Kawasan Cagar Alam Geologi Gua Pawon tidak hanya bermanfaat untuk kepentingan penelitian ilmu kebumian (sebagai laboratorium alam), namun dapat dikembangkan menjadi paket wisata ilmiah (geologi, bentang alam kars, hidrogeologi, arkeologi, budaya) berupa geowisata yang dirancang dalam suatu jalur dengan titik titik atau lokasi objek sasaran.

Kawasan Cagar Alam Geologi baik Ciletuh maupun Gua Pawon, terdiri dari Zona Inti dimana terdapat di dalamnya singkapan-singkapan batuan yang jarang di dapat, yang mempunyai ke khasan dan keunikan, di luarnya terdapat Zona Penyangga yang berfungsi sebagai penyangga atau pendukung dari zona inti dengan luas yang berbeda tergantung kepada kondisi dan karakteristik setempat.

Sumber :Distamben Jabar

Peta

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_1.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_2.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_3.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_4.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_5.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_6.pdf

http://www.distamben-jabar.go.id/arsimg/Lembar_Peta_7.pdf

Published in: on Januari 31, 2007 at 6:51 am  Komentar (2)  

The URI to TrackBack this entry is: http://bughibughi.wordpress.com/2007/01/31/7/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. bisa lebih lengkap lagi?

  2. Gax ngerti


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: