
Ribuan-ratusan juta tahun sebelum binatang2 bersel banyak (metazoans)pembangun kompleks terumbu muncul, sekelompok organisme marin prokariotik(golongan bakteri dan alga biru-hijau dengan sel yang intinya belum jelasterpisah di dalam sitoplasma) diketahui telah mampu membangun struktur2batugamping terumbu yang masif. Struktur2 masif ini ternyata dapat melewatiribuan-ratusan juta tahun masa pelapukan/perusakan , sehingga struktur2 inikini masih dapat ditemui membangun beberapa unsur bentang alam di AmerikaUtara, Afrika, Asia, dan Australia. Struktur2 terumbu awal ini dikenal sebagaiStromatolit, terbentuk dalam suatu lingkungan oseanografik yang memerlukankondisi tertentu.
Stromatolit adalah struktur organo-sedimen (simbiose antara ganggang-sedimen gampingan) yang dihasilkan oleh setumpuk besar lembaran2 coccoid cyanobacteria (dikenal juga sebagai ganggang biru-hijau, bakteri biru-hijau, myxophyceae atau
chyanophyta) , melalui pemerangkapan sedimen gampingan, pengikatan, dan/atau
pengendapan. Proses pembentukan stromatolit ini banyak dibahas di dalam Walter
(1976 Stromatolites, Elsevier, Amsterdam; buku sangat tebal hampir 800 halaman membahas A sampai Z tentang stromatolit) ; Walter (1983 Archean stromatolites : evidence of the Earths earliest benthos, dalam buku Earths Earliest Biosphere, Princeton Univ. Press). Menurut Bates dan Jackson (1987, eds. Glossary of Geology, American Geological Institute), istilah stromatolit diusulkan oleh Kalkowsky pada 1908 sebagai stromatolith (kemudian menjadi stromatolite/ algal stromatolite; sedangkan stromatolith dipakai Foye 1916 untuk tubuh intrusi magma retas lempeng sill yang menjemari
dengan batuan sedimen).
Stromatolit muncul untuk pertama kalinya pada suatu waktu antara Archeantengah-Archean akhir (sekitar 3000 juta tahun yang lalu -Ma atau 3 Ga giga
years ago/milyar tahun yang lalu). Menjelang awal Proterozoikum (2,5 Ga) mereka
berkembang dalam lingkungan yang luas. Fosil stromatolit paling tua ditemukan
di Zimbabwe baratdaya (2800-3100 Ma menurut Stokes et al., 1978 Introduction
to Geology, Prentice Hall). Tulisan Pellant dan Phillips (1990 – Rocks, Minerals, and Fossils of the World Little, Brown and Co. ) menyebutkan bahwa stromatolit dapat berkembang seawal 3800 Ma.
Stromatolit merupakan organisme pembangun terumbu yang dominan selama Pra-Kambrium (meliputi Archean dan Proterozoikum) dan berlanjut sampai sekitar
600 Ma (memasuki Kambrium pada 570 Ma). Sejak itu, terjadi penurunan kelimpahan
stromatolit. (Fagerstorm, 1987 The evolution of reef communities, John Willey and Sons). Stromatolit masih ditemukan sepanjang Paleozoik, Mesozoik, dan Tersier, dengan kelimpahan yang semakin menurun (Fagerstrom, 1987).
Di samping sebagai pembangun terumbu tingkat awal, stromatolit juga telah memainkan peranan penting dalam membentuk komposisi kimiawi atmosfer. Cyanobacteria pembentuk stromatolit adalah makhluk yang berfotosintesis. Seperti kita tahu, produk fotosintesis adalah oksigen. Maka, pembentukan stromatolit dengan sendirinya telah mengoksigenasi atmosfer awal Bumi yang miskin oksigen pada Archean dan Proterozoikum menjadi mempunyai oksigen yang cukup. Dengan hadirnya oksigen, maka mulailah berkembang fauna2 bersel tunggal yang membutuhkan oksigen, diperkirakan itu terjadi pada pertengahan Proterozoikum (1500 Ma). Pada ujung Proterozoikum atau memasuki Kambrium, tingkat oksigen sudah 10 % daripada tingkatnya sekarang, maka mulailah metazoa marin berkembang (Gross, 1990 Oceanography : a view of the Earth, Prentice Hall).
Pada awal Kambrium, dalam evolusi makhluk hidup terjadi apa yang disebut dengan
Ledakan Kambrium (Cambrian Explosion). Ini adalah ledakan kelimpahan fauna metazoan. Kelimpahan metazoan ini menciptakan persaingan, dan fauna prokariotik
pembangun stromatolit di pihak yang kalah, sehingga telah menurunkan perkembangan stromatolit secara signifikan. Namun, Stromatolit adalah bentuk yang tahan banting, ia telah ditemukan dapat berkembang sampai sekarang (Resen) di beberapa bagian dunia di tempat yang sangat spesifik, yang terkenal adalah yang berkembang di Shark Bay (Teluk Hiu) di Australia barat, di utara Perth.
Karena Indonesia sebagian besar disusun oleh formasi batuan berumur muda,
stromatolit hampir tidak pernah ditemukan dalam catatan fosil Indonesia. Stromatolit dapat melewati masa kepunahan besar (masal) pada ujung Perem dan ujung Kapur, tetapi kalau mereka dapat berkembang sampai Resen, maka mereka akan membutuhkan lingkungan yang sangat khusus yang secara umum merupakan lingkungan yang berbahaya buat makhluk hidup lainnya. Maka, mereka akan hidup di lingkungan yang cocok buatnya tetapi tak cocok buat makhluk lain, tanpa saingan, tak mengherankan mereka bisa bertahan sampai Resen.
Sedikit sekali di dunia stromatolit Resen dapat berkembang sebab kekhususan lingkungan yang menjadi prasyaratnya. Stromatolit Resen terbaik yang banyak dipelajari para ahli adalah terumbu stromatolit Hamelin Pool, laguna hipersalin (super asin) di Shark Bay, Australia Barat (foto stromatolit ini sering muncul di buku2 teks sains kebumian), Lake Van di Anatolia,Turki, yang merupakan danau berkadar soda terbesar, dan di sebagian Bahama Banks, perairan Amerika Tengah.
Bakteri biru hijau (cyannobacteria) Danau Motitoi menurut Kazmierczak dan Kempe
(1990 Modern cyannobacterial analogs of Paleozoic stromatoporoids, Science 250, p. 1244-1248) dari kelompok Pleurocapsa, yaitu cyannobacteria yang bereproduksi melalui multiple fiission (pembelahan banyak). Tetapi, Pleurocapsa ini juga dapat melakukan binary fission (pembelahan ganda) (Delaney, 1990 Cyannobacteria, dalam Clayton dan King, eds, Biology of Marine Plants, Longman Cheshire) dan jenis inilah yang merupakan penyusun utama terumbu stromatolit Satonda
Dua ganggang gampingan yang ditemukan di Danau Motitoi merupakan komponen
struktur sangat penting terumbu stromatolit Satonda (Tomascik et al., 1997). Ini tak mengherankan sebab Corallinaceae dan Peyssonneliaceae (Rhodophyta) merupakan kelompok pembangun terumbu yang memiliki fungsi utama melakukan penyemenan atas sedimen terumbu.
Pembentukan stromatolit terumbu Satonda di Danau Motitoi ditemukan terbatas pada lapisan permukaan sampai kedalaman batas oksigen/H2S (24-26 meter). Pembentukan terumbu terutama ditemukan dari permukaan sampai kedalaman 12 meter di mana bakteri biru-hijau berkembang secara dominan bersama ganggang kerang (coralline algae) Lithoporella sp. Dan ganggang dari genus Peyssonnelia yang kurang dominan.
Keterdapatan stromatolit Resen di Satonda dalam danau kawah Motitoi yang alkalin mendukung hipotesis Soda Ocean (Kempe dan Dagens, 1985 An early soda ocean ? Chemical Geology 53, p. 95-108; Kempe, 1991 De oerocean, een sodazee, Natuur en Techniek 59, p. 206-215) yang menyatakan bahwa laut Pra-Kambrium bersifat alkalin dan sangat dijenuhi oleh mineral karbonat. Menurunnya alkalinitas laut dan kejenuhan karbonat dapat menerangkan lenyapnya stromatoporoids pada ujung Paleozoikum.
Hal menarik buat kita para ahli geologi adalah pembentukan habitat Satonda yang
unik, yaitu terdapatnya danau kawah gunungapi (Danau Motitoi) yang diisi air laut. Dinding kawah Danau Motitoi curam berupa tebing setinggi 300 meter di atas muka laut, terbuat dari lapisan tuf, lapili, dan bom volkanik, dan ditemukan beberapa retas tiang (dike intrusion). Depresi kawah Satonda diperkirakan terbentuk oleh runtuhan di atas dapur magma gunungapi Satonda akibat letusan 10.000 tahun yang lalu sehingga membentuk kawah. Ke arah selatan, dinding kawah pada suatu waktu kemudian merosot ke arah laut, sehingga tebing kawah di sini hanya setinggi 13 meter di atas muka laut (dari sisi inilah Danau Motitoi mudah dicapai). Struktur dinding yang merosot ini membentuk sistem pertelukan sehingga laut menjorok memasuki wilayah kawah.
Air laut masuk ke danau kawah, menggantikan air tawar yang semula ada. Peristiwa
marine flooding ini terjadi pada 3150 ribu tahun yang lalu, berdasarkan peneraan karbon-14 pada lapisan gambut yang luas yang ditemukan di bawah lapisan karbonat. Penggalian di tepi danau menemukan lapisan-lapisan moluska dan gastropoda serta fauna marin lainnya. Saat laut mundur pada suatu waktu, lapisan2 ini menjadi lapisan penghalang dan kemudian menjadi pemisah permanen danau kawah Satonda dari laut terbuka.
Saat ini Danau Motitoi telah kehilangan semua aksesnya ke laut di dekatnya. Akibatnya, air asin Satonda memiliki alkalinitas, pH, dan kejenuhan mineral karbonat yang lebih tinggi daripada laut di sekitarnya. Kondisi ini telah menghilangkan kemungkinan terdapatnya mikrobiota marin pada umumnya, tetapi sebaliknya ditemukan secara berlimpah struktur2 seperti terumbu gampingan yang disusun oleh ganggang merah, serpulids, foram, dan yang paling menakjubkan adalah ditemukannya lembaran-lembaran insitu cyannobacteria yang mengandung kalsit. Morfologi dan struktur mikro terumbu Satonda memiliki mikrobialites (deposit organo-sedimen gabungan struktur lembaran organik yang termineralisasi) yang mirip dengan stromatolit kurun Archean dan Proterozoikum
atau stromatoporoids Paleozoikum (Kazmierczak dan Kempe, 1992 Modern cyannobacterial counterparts of Paleozoic Wetheredella and related problematic
fossils, Palaios 7, p. 294-304).
Pulau Satonda dan danau kawahnya oleh karena itu, merupakan laboratorium
paleo-oseanografik yang sangat menarik yang berkembang pada saat Resen.
Mikrobialit penyusun stromatolitnya mirip dengan mikrofosil stromatolit Pra-Kambrium dan Paleozoikum, yang terjadi pada lingkungan laut hipersalin, alkalin, miskin biota, tetapi kaya mikrobialit gampingan. Danau Motitoi memiliki ciri-ciri laut Pra-Kambrium dan Paleozoikum ini. Menyelam di Danau Motitoi, Pulau Satonda ibarat memasuki mesin atau terowongan waktu yang membawa orang dari Resen ke ratusan-ribuan jutaan tahun yang lalu saat Paleozoikum bahkan Pra-Kambrium. Maka, pulau sekecil Satonda yang belum tentu muncul atau bernama di banyak atlas anak sekolah, ternyata punya status keilmuan yang sangat besar.
Sumber : IAGInet / 3 Nov 2007
By : Awang Harun satyana