Daftar saham yang masuk LQ 45 tahun 2007 – 2008

BEJ per Agustus 2003 mengeluarkan daftar saham yang masuk dalam index LQ 45.

Adapun rinciannya sila klik di bawah ini.

LQ45 Aug 03 – Jan 04

LQ45 Feb – Jul 04

LQ45 Aug 04 – Jan 05 rev

LQ45 Feb – Jul 05

LQ45 Aug 05 – Jan 06

LQ45 Feb 06 – Jul 06

LQ45 Aug 06 – Jan 07

LQ45 Feb 07 – Jul 07

LQ45 Aug 07 – Jan 08

LQ45 Feb 08 – Jul 08

LQ45 Aug 08 – Jan 09

Saya juga mohon maaf kepada pengunjung sekalian yang telah berbaik hati mengunjungi blog ini untuk mencari data data yang di butuhkan. Saat ini saya sedang mencari data data yang anda minta, suatu saat Insya Allah akan saya  berikan via japri.

Selamat berinvestasi…..

Published in: on Januari 6, 2009 at 4:30 pm  Komentar (145)  

Buku Baru – Buku Geologi Indonesia : Dinamika dan Produknya (PSG, 2007)

Awang Satyana
Sun, 10 Feb 2008 17:27:32

Setelah setahun lebih dalam proses mengumpulkan makalah lengkap, menyuntingnya,  dan mencetaknya; maka pada akhir Desember 2007 terbitlah sebuah buku berjudul  Geologi Indonesia : Dinamika dan Produknya”.
Makalah2 yang ada di dalam buku ini berasal dari presentasi di dalam seminar dua hari bertema sama dengan judul buku ini yang diselenggarakan oleh Pusat  survei Geologi (PSG), Badan Geologi, Departemen ESDM pada bulan Desember 2006.  ini adalah seminar tahunan yang diselenggarakan PSG dalam rangka menginformasikan hasil-hasil penelitiannya kepada masyarakat geologi Indonesia.  Seminar pada Desember 2006 itu rupanya agak khusus karena mengundang juga  beberapa pembicara dari luar PSG yang diharapkan dapat memberikan makalah yang  berhubungan dengan tema seminar.

Presentasi dalam dua hari seminar akan segera berlalu dan dilupakan orang.   maka semua upaya untuk menindaklanjuti seminar tersebut dengan mempublikasikan bahan2 presentasi ke dalam bentuk makalah lengkap dan mempublikasikannya, adalah sungguh perbuatan terpuji. Kemajuan penelitian geologi akan selalu didasarkan kepada bahan-bahan pustaka yang telah dipublikasikan. Semua usaha menerbitan pustaka geologi wajib kita dukung.

Usaha sekitar setahun tim publikasi seminar ini di bawah pimpinan ketua dewan redaksi Pak Fauzi Hasibuan (PSG) dan ketua dewan penerbit Pak Yunus Kusumahbrata (PSG) dan semua anggotanya, juga secara khusus para penyunting ilmiah dan penyunting bahasa yang terdiri atas para pakar di bidangnya masing2 sungguh tak sia-sia.

Buku dicetak dalam edisi lux dengan bahan kertas dan mutu cetakan yang prima, penuh warna, foto, dan gambar. Buku diterbitkan ke dalam dua volume berisi 31 makalah lengkap dengan tebal total kedua volume 495 halaman. Bila tertarik, buku dapat diperoleh dengan menghubungi Perpustakaan PSG, Jl. Diponegoro 57, Bandung, telp. 022-7279673. Harganya saya tidak tahu, tetapi bisa ditanyakan kepada alamat tersebut.

Berikut daftar lengkap makalah-makalah yang ada di buku ini.

Volume 1 : Geo-Dinamika dan Geo-Lingkungan

Geodinamika Indonesia dan keberlangsungan hidup manusia : dari ilmu-ilmu kebumian ke ilmu-ilmu sistem kebumian (Jan Sopaheluwakan), Formation of pull-apart basin along transcurrent fault : lesson from Sumatera (Bona Situmorang dan Barlian Yulihanto) Peran morfologi struktur kaitannya dengan deformasi landform daerah Semarang
Selatan (S. Poedjoprajitno, J. Wahyudiono, dan A. Cita) Pengaruh tektonik pada pembentukan endapan danau di Sukanagara, Kabupaten Cianjur (A.K. Permana dan I. Nurdiana)Perkembangan tektonik dan petrogenesis batuan granitan Kapur hingga Tersier di daerah Lampung (Andi Mangga dan Suyono) Potensi geowisata Nusa Tenggara Barat (Heryadi Rachmat dan A. Rosyada) Pemanfaatan lahan pascatambang kota Sawahlunto (Bambang Istijono) Geologi lingkungan kota Semarang (Andiani, Wahyono, A. Darmawan) Penggunaan metode GPR untuk mendeteksi bidang gelincir pada gerakan tanah A. Solikhin, D.K. Syahbana, A.Darsoatmodjo, Surono) Kondisi fisik lumpur Sidoarjo, evaluasi pengelolaan dan pengendapan akhir ke  laut (E. Usman, M. Salahuddin, D.A.S Ranawijaya, J.P.Hutagaol, K.T. Dewi) Seismotektonik, bencana dan risiko gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006 (A. Soehaimi, Marjiyono, Y. Sopyan) Penyelidikan gempabumi susulan, deformasi dan mekanisme sumber gempa  Yogyakarta 27 Mei 2006 (Gede Suantika) Gempabumi Buru 14 Maret 2007 (Yudhicara, Supartoyo, Surono, G. Turjono)
Risiko tsunami di kawasan pantai selatan Yogyakarta (Yudhicara, M. Akrom Mustafa, K.Budiono) Tsunami selatan Jawa 17 Juli 2006 (Yudhicara, Gede Suantika, Eka T.
Putranto, A. Solikhin) Daerah rawan tsunami kawasan pantai selatan Bali (Yudhicara, A. Solikin, D. Junaed) Pengembangan informasi spasial geologi berbasis teknologi sistem informasi geografi di PSG Bandung (Adang Saputra)

Volume 2 : Sumberdaya Geologi, Sedimentologi, Gunungapi, Paleontologi, dan
Geo-Informasi

Sumbangsih eksplorasi minyak dan gas bumi terhadap pengetahuan geologi Indonesia : data dan pandangan baru geodinamika Indonesia (Awang Satyana) Konfigurasi batuan alas cekungan hidrokarbon berdasarkan gayaberat dan magnet di daerah Randublatung, Cepu dan sekitarnya, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Simon Hutubessy)Peranan Merapi untuk mengidentifikasi fosil gunungapi pada “formasi andesit tua” : studi kasus di daerah Wonogiri (Gendut Hartono dan Ildrem Syafri)Pemantauan sistem hidrotermal kawah gunungapi Kelud dalam mendeteksi aktivitas kegunungapian (D.K. Syahbana, H. Gunawan, Surono, A. Bernard, A.  Cipta)
Potensi timah letakan berdasarkan data geologi kelautan terpadu di perairan lembar 1017 Batam Utara, Kepulauan Riau (E. Usman, L.Sarmili, A. Setyanto, I.K.G. Aryawan, L.Gustiantini) Mineralisasi logam dasar epitermal-mesotermal di daerah Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Agus Hendratno) A Study on paleoflora (Permian) of Jambi, South Sumatra (Fauzi Hasibuan) Palynofacies of Late Eocene Formation : a case study in Tanjung Formation, South Kalimantan (A.A. Polhaupessy) Batuan sumber batupasir Formasi Lemau di Cekungan Bengkulu (R. Heryanto) Stadia diagenesa batugamping sebagai litoindikator karstifikasi DAS Jirak, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta (Srijono) Petrologi batupasir Formasi Mentarang Kelompok Embaluh, daerah Longbia,  Kalimantan Timur (R.Setyawan, I.Nurdiana) Petrologi batuan gunungapi Kecamatan Tugu dan sekitarnya, Kabupaten  Trenggalek, Jawa Timur (Irkamni, Agus Hendratno, Udi Hartono) Studi sikuen stratigrafi Anggota Atas Formasi Cibulakan, Cekungan Jawa Barat  Utara (A.K. Permana) Integrasi citra Landsat dan citra Ifsar untuk pemetaan geologi rinci : studi kasus lembar Tapalang, Sulawesi Selatan (S. Mawardi, I.Christiana, Sidarto)

Demikian informasi. Semoga buku ini cukup tersebar sehingga dapat  meningkatkan pengetahuan masyarakat geologi Indonesia dan berguna bagi  ekstraksi sumberdaya mineral dan energi serta mitigasi kebencanaan geologi.

Published in: on Maret 4, 2008 at 6:22 am  Komentar (8)  

Titan, Saturnus : Lebih Besar dari Semua Cadangan Migas dan Batubara di Bumi

Awang Harun Satyana
Tue, 19 Feb 2008 22:14:49

Judul subyek di atas memang provokatif, tetapi itu yang dikemukakan oleh sebuah artikel baru yang dimuat di the Geophysical Research Letters edisi 29 Januari 2008. Artikel ini didasarkan kepada data terbaru yang dikirimkan dari wahana angkasa luar Cassini (NASA) yang sedang mengeksplorasi bulan Saturnus berwarna jingga : Titan. Studi atas penemuan Cassini ini dipimpin oleh Ralph Lorenz dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory.

“Permukaan Titan ditutupi oleh materi karbon, mirip pabrik zat kimia organik berukuran raksasa”, ujar Lorenz. “Cadangan karbon yang luar biasa ini merupakan jendela yang penting untuk menatap ke sejarah geologi dan iklim Titan.” Pada temperatur -179 C, Titan merupakan bulan raksasa yang sangat dingin. Daripada air, hidrokarbon cair dalam bentuk metana dan etana hadir di permukaan satelit Saturnus ini, dan zat bernama “tholin” menyusun “bukit-bukit pasir” (dunes)-nya. Istilah “tholin” digunakan oleh almarhum Carl Sagan, astronom terkenal, untuk menyebut molekul organik kompleks pada kimia pre-biotik (asal mula kehidupan)

Wahana angkasa luar Cassini telah memetakan sekitar 20 % permukaan Titan menggunakan radar. Beberapa ratus danau dan laut telah teramati, bukan berisi air tetapi berisi hidrokarbon cair yang kalau dijumlahkan cadangannya melebihi semua cadangan lapangan-lapangan migas di Bumi. Bukit-bukit pasirnya yang berwarna gelap dan tersebar sepanjang equator Titan mengandung volume zat organik yang kalau dihitung jumlahnya ratusan kali lebih besar daripada cadangan batubara di Bumi.

Ada lusinan danau metana dan etana di Titan yang masing-masing mempunyai volume
yang sama dengan seluruh cadangan terbukti gas alam di Bumi (130 milyar ton). Semua danau yang teramati ini didasarkan kepada data di wilayah kutub utara Titan. Bagaimana wilayah kutub selatannya belum diketahui dengan pasti sebab Cassini baru melintasinya sekali dan hanya nampak dua danau kecil.

Para ilmuwan memperkirakan kedalaman danau dengan membuat beberapa asumsi umum berdasarkan danau2 di Bumi. Mereka menggunakan luas dan kedalaman  rata-rata danau di Bumi sambil memperhitungkan topografi di sekitarnya seperti pegunungan. Di Bumi, kedalaman danau seringkali 10 kali lebih kurang daripada ketinggian topografi di sekitarnya. Di citra radar Cassini itu, semakin gelap warna danau semakin dalam.

Tetapi, bila semua cairan yang teramati di Titan ini adalah metana, maka ia juga akan menyebabkan greenhouse effect yang hebat. Para ilmuwan memperkirakan bahwa keberadaan danau metana di Titan ini hanya akan bertahan beberapa juta tahun karena ketika metana menguap ke atmosfer Titan, ia akan segera terurai, lalu lepas ke luar angkasa Titan. Bila metana ini telah habis, maka Titan akan menjadi jauh lebih dingin. Para ilmuwan percaya bahwa metana ini masuk ke atmosfer melalui mekanisme methane venting cryovolcanic eruptions – sebuah  etusan volkanisme dalam temperatur di bawah titik beku di Bumi yang tentu saja tidak pernah terjadi di Bumi.

Misi Cassini berrikutnya adalah terbang mendekati Titan pada 22 Februari Jumat
ini, instrumen radarnya akan mengamati dengan detail calon tempat pendaratan
Huygens probe yang akan berjalan2 di permukaan Titan mengamati dengan detail
satelit ini sambil melakukan ground-check atas citra radar yang telah diperolehnya.

Misi Cassini-Huygens merupakan proyek kerja sama antara NASA, ESA (Lembaga
Antariksa Eropa) dan Lembaga Antariksa Italia. JPL -Jet Propulsion Laboratory,
yang merupakan sebuah divisi di California Institute of Technology di Pasadena,
melakukan pengelolaan dan pemantauan misi ini untuk Direktorat Misi Keilmuan
NASA di Washington. Wahana pengorbit Cassini dirancang, dikembangkan, dan
dibuat di JPL. Instrumen radarnya dibangun oleh JPL dan Lembaga Antariksa
Italia, bekerja sama dengan banyak anggota tim dari negara2 Amerika Serikat dan
Eropa.

Demikian sekilas informasi terbaru.

Published in: on Maret 4, 2008 at 5:50 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Indonesia : Bagaimana Geologi Mengendalikan Keanekaragaman Hayati

                                                        zebara.jpg

Awang Harun Satyana (Eksplorasi BPMIGAS)

Rumit Namun Menarik

Geologi Indonesia begitu rumit namun menarik. Van Bemmelen, penulis The Geology of Indonesia” (1949), sebuah adikarya sampai saat ini, menyebut Indonesia sebagai the most intricate part of the earths surface.Lebih lanjut, van Bemmelen meramalkan bahwa akan banyak kemajuan dalam geosains dihasilkan oleh penelitian-penelitian di Indonesia. Menutup kekagumannya akan Indonesia, van Bemmelen menulis, The East Indies are an important touchstone for conceptions on the fundamental problems of the geological evolution of our planet.

Van Bemmelen tidak berlebihan. Lebih dari 50 tahun kemudian, Robert Hall dan Dan Blundell, para penyunting buku Tectonic Evolution of Southeast Asia (1996), menulis di pengantar bukunya, SE Asia is probably the finest natural geological laboratory in The world. Hall dan Blundell adalah anggota SE Asia Research Group, University of London, sebuah lembaga riset yang telah menekuni penelitian geologi di Indonesia sejak awal tahun 1970an.

Ringkasan tentang pengetahuan geologi Indonesia, termasuk kerumitan dan kemenarikannya, dapat dipelajari dari buku tulisan Rab Sukamto, Pengetahuan Geologi Indonesia : Tantangan dan Pemanfaatan(2000).

Begitu Kayanya

Indonesia pun sangat terkenal akan kekayaan keanekaragaman hayati. Tak kurang dari ilmuwan besar sekelas Alfred Russel Wallace, yang berteman dengan Charles Darwin dan sebenarnya juga sama-sama menemukan teori evolusi, telah menghabiskan waktunya delapan tahun (1854-1862) menjelajah kekayaan fauna usantara.Buku yang terkenal, The Malay Archipelago (1869), telah menggerakkan banyak ilmuwan meneliti keanekaragaman hayati Indonesia.

Bagaimana tidak kaya ? Bayangkan : meskipun Indonesia hanyameliputi 1,3 % luas daratan di Bumi, tidak satu negara pun yangmempunyai begitu banyak mamalia (500 jenis atau 1/8 dari jumlah seluruh mamalia di dunia). Bayangkan : Satu dari enam burung,amfibia, dan reptilia dunia ada di Indonesia. Satu dari tigaserangga dunia ada di Indonesia. Dari setiap lima moluska dunia,dua di antaranya ada di Indonesia. Dan, juga sekitar satu darisetiap sepuluh tumbuhan unia terdapat di Indonesia. Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropik lainnya (Kartawinata dan Whitten, 1991; Primack dkk., 1998).Di Indonesia jugalah bertemunya zone-zone zoogeografi.

Sejarah Geologi Menentukan Kekayaan Hayati

Mengapa terdapat wilayah-wilayah biogeografi yang berbeda-beda di Bumi ini ? Kuncinya terletak pada geologi dan iklim di Bumi kita yang terus berubah (Whitmore, 1981; 1987). Maka, sejarah geologi dan paleoklimatologi akan menentukan asal muasal kekayaan hayati. Nusantara secara geologi dibentuk oleh perbenturan dua massa fragmen benua : Laurasia di utara dan Gondwana di selatan. Sejarahnya dimulai ketika bagian benua selatan Gondwana retak dan terapung ke utara pada sekitar 140 juta tahun yang lalu (tyl) (ujung Yura). Tumbuhan berbunga telah mulai berevolusi pada saat Benua Gondwana terdisintegrasi. Baik flora maupun fauna dapat mencapai Nusantara tanpa perlu menyeberangi air melalui tiga rute : Laurasia, Gondwana via Australia, atau Gondwana via India kemudian diikuti migrasi ke tenggara.

Beberapa kelompok fauna pada saat itu pun bisa terisolasi dan tetap keadaannya seperti ditemukan sekarang. Pada 55 juta tahun yang lalu (Eosen), pecahan fragmen Gondwana membentur Laurasia. Sekitar 40 juta tyl, fragmen Asia Tenggara (Daratan Sunda) telah mencapai khatulistiwa dan menempati posisi yang sama dengan yang sekarang.

Migrasi flora dan fauna Laurasia bisa terjadi di Daratan Sunda tanpa menyeberangi masa air. Migrasi yang sama terjadi juga di zaman Kuarter saat glasiasi menurunkan muka laut sampai 180 meter. Pada 40 juta tyl itu, juga benturan fragmen benua Gondwana dan kerak samudera di Lautan Pasifik telah mengangkat Pegunungan Tengah Papua dan memperluas wilayah Papua. Tentu, ini akan mempengaruhi spesiasi flora dan fauna.

Benturan berikutnya terjadi pada 15 juta tahun yang lalu (Miosen Tengah) saat fragmen-fragmen benua Australia/Niugini membentur Sulawesi. Pada masa itu, fragmen-fragmen Australia membawa flora dan fauna Gondwana dan membentur flora dan fauna Sulawesi Barat yang telah banyak dikolonisasi biota Laurasia. Garis batas Wallace (Selat Lombok ke Selat Makasar) adalah salah satu batas zoogeografi di Bumi yang paling tajam dan paling dramatik yang membatasi zone kontak antara fauna-fauna Laurasia dan Gondwana.

Selama periode Plistosen, semua pulau di sebelah barat Garis Wallace dihubungkan oleh daratan sampai Asia. Oleh karenanya pulau2 ini memiliki jenis fauna yang sama. Papua dan Aru di sebelah timur Garis Wallace berhubungan dengan Australia dengan fauna yang khas Australia. Di daerah Wallace, yaitu Maluku, Sulawesi dan pulau-pulau Nusa Tenggara tidak mempunyai hubungan dengan benua-benua di sekitarnya. Maka daerah Wallace miskin fauna dan flora, tetapi tingkat endemisitasnya (kekhasan) tinggi. Di samping itu, terdapat perpaduan antara biota Asia (Laurasia) dan Australia (Gondwana).

Kekayaan spesies melalui proses spesiasi dan tingkat endemik flora-fauna akan ditentukan oleh ukuran pulau, ketinggian, habitat, dan lokasi geografi. Jumlah spesies di sebuah pulau akan ditentukan oleh luas pulau dan angka perimbangan kepunahan lokal dan migrasi. Pulau besar punya spesies lebih banyak, pulau terisolasi punya spesies lebih sedikit. Tingkat endemisitas banyak dipengaruhi oleh faktor isolasi geografik. Semakin terisolasi semakin endemik. Ketinggian juga mempengaruhi kelimpahan spesies. Semakin tinggi spesies semakin berkurang. Dengan menerapkan prinsip-prinsip di atas dan memahami sejarah geologi (tektonik) suatu wilayah, maka dapat dipahami dan diprediksi bagaimana kekayaan keanekaragaman hayati wilayah tersebut. Sejarah geologi akan menentukan jumlah unit biogeografi.

Mensyukuri Keanekaragaman Geologi dan Biologi Menutup tulisan singkat ini, hendaknya kita sadari bahwa betapa menyenangkan hidup di Indonesia, di tengah begitu banyak keberagaman alam dan budaya. Semoga energi kita tidak terkuras habis oleh beberapa krisis yang tengah terjadi, sehingga kita masih sempat mensyukuri nikmat alamiah yang telah diberikan-Nya.

Semua itu diberikan untuk Indonesia, dan kitalah yang harus mengupayakannya

agar bermanfaat lahir dan batin.***

Published in: on Maret 4, 2008 at 4:57 am  Komentar (6)  

Kepunahan Massal oleh Antipodal Deccan Traps-Chicxulub Impact Crater

impact.jpg

Bukan hal baru yang saya tulis ini, tetapi mencoba memahaminya dengan mengingat plume tectonics dan melakukan revisi rekonstruksi paleo-tektonik, rasanya ada nafas baru dalam memandang problema lama. Maaf, agak panjang tulisannya tetapi semoga ada gunanya.

Menarik mengkaji ulang peristiwa katastrofik di ujung Kapur dan awal Tersier (65 Ma) atau K-T K=Kreide/Cretaceous & T=Tersier) Boundary. Fakta paleontologi menunjukkan 75 % spesies fauna’”tiba-tiba” punah. Teori-teori dikemukakan. Perdebatan pasti terjadi. Tulisan ini menghimpun semua perdebatan yang ada, memberi interpretasi baru-mencoba mengulas kaitan keberadaan antipode, plume tectonics, dan kepunahan massa. Plume tectonics mungkin tidak main-main. Kait-mengkaitnya unik dengan awal dan akhir kehidupan.

jurasc.jpg morfologi.jpg

 

Tidak banyak buku geologi, astronomi, natural history membahas masalah antipode secara detail. Padahal, di solar system antipode, yang memenuhi hukum aksi-reaksi Newton, benar2 terjadi di beberapa planet dan satelit. Misalnya, largest impact basin planet Mars Hellas Plenitia menyebabkan antipode Alba Patera, gunungapi Mars yang sekaligus merupakan gunungapi terbesar di Tata Surya. Atau, Caloris Basin, impact crater terbesar di sebuah sisi planet Merkurius menyebabkan antipode crater di sisi planet yang lain.

Beberapa buku dari Dixon et al (2001) : Atlas of Life on Earth – Barnes & Noble; Desonie (1996) : Cosmic Collisions – Henry Holt & Co.; Marshal (2000) : Space – Marshal Publishing; dan Luhr et al. (2003) : Earth – Dorling Kindersley Ltd. lumayan bagus memberikan beberapa keterangan tentang impact crater dan antipode-nya di Bumi pada saat K-T Boundary (Cretaceous-Tertiary Boundary) dan hubungannya dengan mass faunal extinction di 65 Ma itu – sebuah kepunahan massa paling terkenal di Bumi meskipun bukan yang paling besar.

Antipode adalah sebuah istilah umum/geografi/astronomi dari bahasa Latin dan Yunani untuk menunjukkan posisi sebuah tempat di sisi sebaliknya (180 deg.) dari sebuah bola planet relatif terhadap posisi acuan. Misalnya, sisi antipodal dari wilayah Indonesia adalah Columbia. Artinya, Columbia tepat di bawah Indonesia di sisi planet yang lain dan sebaliknya. Di sebuah globe, tariklah garis bujur dari tempat itu ke arah kutub, melaluinya dan teruskan sampai sejauh 180 deg, itulah antipodenya.

Kepunahan fauna secara masal (75 %) di Bumi di perbatasan Kapur-Tersier telah menjadi topik menarik sejak puluhan tahun. Banyak teori dikemukakan. Kalau dikumpul2kan, bisa digolongkan jadi tiga : (1) katastrofik karena benturan komet/meteor, (2) katastrofik karena volkanisme, dan (3) gradualis karena perubahan iklim akibat massa lautan yang menyurut. Mana yang benar ? Saya pikir, semuanya benar, tetapi ada yang paling dominan dan bisa jadi semuanya berkaitan.

lokasi.jpg

Berkat penelitian oil companies di sekitar GOM (Gulf of Mexico) tahun 1980an, maka ditemukanlah sebuah kawah sangat besar dengan diameter 180 km di utara Tanjung Yucatan Mexico terkubur dalam sedimen setebal 2000 meter. Disebutlah kawah itu Chicxulub. Data image gravity dan magnetik dari Luhr et al. (2003) sangat spektakular menunjukkan keberadaan kawah itu. Di sekelilingnya sampai ke
Kuba, Haiti, San Luis, dan Dallas sekarang ditemukan impact wave deposits berupa boulder2 dan data petrografik menunjukkan ciri khas shocked quartz (coesite Shoemaker) pada deposit itu, suatu indikasi meteorite impact. Bahkan di Haiti ditemukan lapisan tektit – deposit hasil meteorite impact setebal ½ meter. Semua dating absolut menunjukkan umur 65 Ma untuk deposit2 ini. Dan, di banyak tempat di dunia ditemukanlah lapisan tipis kaya mineral iridium menyisip di antara lapisan2 K-T Boundary, juga lapisan hitam yang mengindikasi sisa
jelaga kebakaran skala global. Tidak banyak sumber platina iridium di Bumi, sumbernya hanya banyak di meteorit. Bagaimana mengartikan
semua ini ? Sebuah meteorit yang diyakini berdiameter 10 km telah menghantam Bumi pada 65 Ma di sekitar Teluk Meksiko sekarang, mengangakan kawah selebar 180 km, menyebabkan kebakaran global, dan akhirnya memunahkan 75 % spesies fauna saat itu yang sedang didominasi kaum dinosaurus. Penganut teori kepunahan K-T Boundary akibat meteorite-impact yang dipelopori ayah-anak Luis Alvarez & Walter Alvarez (Luis adalah ahli fisika dan Walter adalah geologist) mendapatkan buktinya dan inilah teori yang paling banyak dianut saat ini.

Di sisi planet yang lain, di anak benua India sekarang, terdapatlah sebuah plato yang seluruhnya disusun basalt seluas 500.000 km2 (kira-kira hampir seluas Kalimantan di luar Sarawak-Sabah). Inilah Deccan Traps atau Deccan Plateau. Radiometric dating memberikan umur persis 65 Ma. Geologist berpikir, untuk menghasilkan flood basalt sebanyak itu (lebih dari 2 juta km3) tentu butuh waktu volkanisme yang lama. Sayangnya, radiometric dating menunjukkan bahwa volume sebanyak itu hanya dihasilkan dalam waktu satu juta tahun saja,
sangat singkat dalam skala waktu geologi. Dalam hitungan volkanologi normal, tak mungkin sesingkat itu menghasilkan flood basalt seluas dan sebanyak itu. Maka para penganut teori kepunahan massa akibat katastrofik volkanisme mendapatkan kartu as-nya. Letusan volkanik di Deccan telah menyebabkan perubahan lingkungan global, hujan asam, volcanic winter akibat sun blocking (seperti 3 hari gelap saat erupsi Krakatau Agustus 1883), dan efek2 domino lainnya yang akhirnya menyebabkan kepunahan massa.

Mana yang benar, meteorite impact 65 Ma atau Deccan flood basalt voluminous eruption 65 Ma yang menyebabkan global mass extinction ? Dua-duanya bisa benar dan bahkan saling berhubungan sebab-akibat. Maka, sebuah teori elegan tetapi sangat kontroversial diajukan : meteorite/comet collision di Chicxulub-Teluk Meksiko telah menyebabkan erupsi volkanik skala besar di Deccan-India dalam
mekanisme antipodal effect. Dan kedua efek katastrofik ini telah mengubah lingkungan global yang menyebabkan kepunahan masal di K-T boundary.

Sebuah problem timbul. India bukan pada posisi antipodal Teluk Meksiko. Posisi antipodal Teluk Meksiko sekarang ada di tengah Lautan Hindia di BD Indonesia di sekitar Pulau Cocos. Atau, Deccan eruption akan memerlukan impact crater yang lain yang bukan dari Teluk Meksiko, tetapi di Lautan Pasifik pada tepi timur Lempeng Nazca di offshore barat Bolivia. Tidak ada tanda-tanda impact-crater di offshore Bolivia ini. Teori antipode punya problem…, begitu kata publikasi yang ada.

Benarkah punya problem ? Saya rasa tidak. Kembalikan saja ke posisi tektonik massa benua dan lautan pada sekitar 65 Ma. Antipodal position 65 Ma mestinya tidak diplot pada globe 0 Ma, tetapi pada globe 65 Ma. Maka akan terlihat bahwa saat itu India belum di tempatnya sekarang dan belum membentur Eurasia dan membentuk suture Cimmerian. India micro-plate saat itu ada di tengah Lautan Hindia di selatan di antara Afrika dan Indonesia. Dan Teluk Meksiko pun belum pada bentuknya sekarang, North America masih terbelah dari Canada ke Teluk
Meksiko oleh Cretaceous giant seaway. Antilles Arc belum ada dan South America belum menyambung ke North America melalui tanah genting Panama.

chixpic1.jpg chixpic2.jpgchixpic3.jpgchixpic4.jpg

Komet/meteorit jatuh di proto-Teluk Meksiko dan menggoncangkan Bumi dengan gelombang kejut ke seluruh globe (shock-wave). Gelombang kejut ini telah mengganggu kesetimbangan fluida di mantel bahkan outer core Bumi. Maka mantle plume bergerak berupa pasangan head dan tail plume menjurus ke posisi antipodal impact crater Chicxulub saat itu yaitu ke wilayah Lautan Hindia di antara Afrika dan Indonesia. Head plume menyebabkan volkanisme flood basalt dengan akar panjang ke dalam mantel di ujung tailnya. Erupsi basalt besar-besaran membanjiri kawasan seluas 500.000 km2 yang sekarang berupa Deccan Plateau di India, saat itu India microplate tengah terapung di atas kerak samudra Lautan Hindia bergerak ke utara. Massa flood basalt sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu hanya bisa diterangkan dengan plume tectonics, bukan oleh normal volcanology. Meteorit impact dan volkanisme skala global pada 65 Ma itu telah cukup mengubah lingkungan yang hostile untuk semua makhluk hidup.

Sebuah implikasi akan muncul dari interpretasi ini. Kalau benar antipodal Chicxulub
ada di sekitar Cocos Island, artinya India saat 65 Ma ada di sekitar Cocos island sekarang, maka India sebelum retak harus bersatu dengan bagian barat Australia, bukan dengan bagian timur Afrika seperti kebanyakan rekonstruksi sekarang. Saya jadi ingat rekonstruksi Carey (1956), salah satu dari sedikit publikasi yang menaruh posisi paleotektonik India ke Australia dan bukan ke Afrika.

Lepas dari implikasi itu, Deccan Traps memang antipodal Chicxulub Crater. Problem yang ada timbul karena plotting antipodal position tak dilakukan pada globe 65 Ma. K-T Boundary Mass Extinction adalah kerja sama berdua antara extra-terrestrial astroblem di Chicxulub dan terrestrial volcanism di Deccan Traps.

By : Awang Harun Satyana

sumber : IAGInet / 4 Nov 07
Foto dan link : browse di internet

Published in: on November 5, 2007 at 9:38 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Stromatolit Satonda, Sumbawa : “Time Tunnel to Pra-Cambrium Seas”

Pulau Satonda

Ribuan-ratusan juta tahun sebelum binatang2 bersel banyak (metazoans)pembangun kompleks terumbu muncul, sekelompok organisme marin prokariotik(golongan bakteri dan alga biru-hijau dengan sel yang intinya belum jelasterpisah di dalam sitoplasma) diketahui telah mampu membangun struktur2batugamping terumbu yang masif. Struktur2 masif ini ternyata dapat melewatiribuan-ratusan juta tahun masa pelapukan/perusakan , sehingga struktur2 inikini masih dapat ditemui membangun beberapa unsur bentang alam di AmerikaUtara, Afrika, Asia, dan Australia. Struktur2 terumbu awal ini dikenal sebagaiStromatolit, terbentuk dalam suatu lingkungan oseanografik yang memerlukankondisi tertentu.

 

Stromatolit adalah struktur organo-sedimen (simbiose antara ganggang-sedimen gampingan) yang dihasilkan oleh setumpuk besar lembaran2 coccoid cyanobacteria (dikenal juga sebagai ganggang biru-hijau, bakteri biru-hijau, myxophyceae atau
chyanophyta) , melalui pemerangkapan sedimen gampingan, pengikatan, dan/atau
pengendapan. Proses pembentukan stromatolit ini banyak dibahas di dalam Walter
(1976 – Stromatolites, Elsevier, Amsterdam; buku sangat tebal hampir 800 halaman membahas A sampai Z tentang stromatolit) ; Walter (1983 – Archean stromatolites : evidence of the Earth’s earliest benthos, dalam buku Earth’s Earliest Biosphere, Princeton Univ. Press). Menurut Bates dan Jackson (1987, eds. – Glossary of Geology, American Geological Institute), istilah stromatolit diusulkan oleh Kalkowsky pada 1908 sebagai stromatolith (kemudian menjadi stromatolite/ algal stromatolite; sedangkan stromatolith dipakai Foye 1916 untuk tubuh intrusi magma retas lempeng –sill yang menjemari
dengan batuan sedimen).

 

Stromatolit muncul untuk pertama kalinya pada suatu waktu  antara  Archeantengah-Archean akhir (sekitar 3000 juta tahun yang lalu -Ma atau 3 Ga – giga
years ago/milyar tahun yang lalu). Menjelang awal Proterozoikum (2,5 Ga) mereka
berkembang dalam lingkungan yang luas. Fosil stromatolit paling tua ditemukan
di Zimbabwe baratdaya (2800-3100 Ma –menurut Stokes et al., 1978 – Introduction
to Geology, Prentice Hall). Tulisan Pellant dan Phillips (1990 – Rocks, Minerals, and Fossils of the World – Little, Brown and Co. ) menyebutkan bahwa stromatolit dapat berkembang seawal 3800 Ma.

 

Stromatolit merupakan organisme pembangun terumbu yang dominan selama Pra-Kambrium (meliputi Archean dan Proterozoikum) dan berlanjut sampai sekitar
600 Ma (memasuki Kambrium pada 570 Ma). Sejak itu, terjadi penurunan kelimpahan
stromatolit. (Fagerstorm, 1987 – The evolution of reef communities, John Willey and Sons). Stromatolit masih ditemukan sepanjang Paleozoik, Mesozoik, dan Tersier, dengan kelimpahan yang semakin menurun (Fagerstrom, 1987).

 

Di samping sebagai pembangun terumbu tingkat awal, stromatolit juga telah memainkan peranan penting dalam membentuk komposisi kimiawi atmosfer. Cyanobacteria  pembentuk stromatolit adalah makhluk yang berfotosintesis. Seperti kita tahu, produk fotosintesis adalah oksigen. Maka, pembentukan stromatolit dengan sendirinya telah mengoksigenasi atmosfer awal Bumi yang miskin oksigen pada Archean dan  Proterozoikum menjadi mempunyai oksigen yang cukup. Dengan hadirnya oksigen, maka mulailah berkembang fauna2 bersel tunggal yang membutuhkan oksigen, diperkirakan itu terjadi pada pertengahan Proterozoikum (1500 Ma). Pada ujung Proterozoikum atau memasuki Kambrium, tingkat oksigen sudah 10 % daripada tingkatnya sekarang, maka mulailah metazoa marin berkembang (Gross, 1990 – Oceanography : a view of the Earth, Prentice Hall).

 

Pada awal Kambrium, dalam evolusi makhluk hidup terjadi apa yang disebut dengan
Ledakan Kambrium (Cambrian Explosion). Ini adalah ledakan kelimpahan fauna metazoan. Kelimpahan metazoan ini menciptakan persaingan, dan fauna prokariotik
pembangun stromatolit di pihak yang kalah, sehingga telah menurunkan perkembangan stromatolit secara signifikan. Namun, Stromatolit adalah bentuk yang tahan banting, ia telah ditemukan dapat berkembang sampai sekarang (Resen) di beberapa bagian dunia di tempat yang sangat spesifik, yang terkenal adalah yang berkembang di Shark Bay (Teluk Hiu) di Australia barat, di utara Perth.

 

Karena Indonesia sebagian besar disusun oleh formasi batuan berumur muda,
stromatolit hampir tidak pernah ditemukan dalam catatan fosil Indonesia. Stromatolit dapat melewati masa kepunahan besar (masal) pada ujung Perem dan ujung Kapur, tetapi kalau mereka dapat berkembang sampai Resen, maka mereka akan membutuhkan lingkungan yang sangat khusus yang secara umum merupakan lingkungan yang berbahaya buat makhluk hidup lainnya. Maka, mereka akan hidup di lingkungan yang cocok buatnya tetapi tak cocok buat makhluk lain, tanpa saingan, tak mengherankan mereka bisa bertahan sampai Resen.

 

Sedikit sekali di dunia stromatolit Resen dapat berkembang sebab kekhususan lingkungan yang menjadi prasyaratnya. Stromatolit Resen terbaik yang banyak dipelajari para ahli adalah terumbu stromatolit Hamelin Pool, laguna hipersalin (super asin) di Shark Bay, Australia Barat (foto stromatolit ini sering muncul di buku2 teks sains kebumian), Lake Van di Anatolia,Turki, yang merupakan danau berkadar soda terbesar, dan di sebagian Bahama Banks, perairan Amerika Tengah.

 

 

 

Bakteri biru hijau (cyannobacteria) Danau Motitoi menurut Kazmierczak dan Kempe
(1990 – Modern cyannobacterial analogs of Paleozoic stromatoporoids, Science 250, p. 1244-1248) dari kelompok Pleurocapsa, yaitu cyannobacteria yang bereproduksi melalui multiple fiission (pembelahan banyak). Tetapi, Pleurocapsa ini juga dapat melakukan binary fission (pembelahan ganda) (Delaney, 1990 – Cyannobacteria, dalam Clayton dan King, eds, Biology of Marine Plants, Longman Cheshire) dan jenis inilah yang merupakan penyusun utama terumbu stromatolit Satonda

 

Dua ganggang gampingan yang ditemukan di Danau Motitoi merupakan komponen
struktur sangat penting terumbu stromatolit Satonda (Tomascik et al., 1997). Ini tak mengherankan sebab Corallinaceae dan Peyssonneliaceae (Rhodophyta) merupakan kelompok pembangun terumbu yang memiliki fungsi utama melakukan penyemenan atas sedimen terumbu.

 

Pembentukan stromatolit terumbu Satonda di Danau Motitoi ditemukan terbatas pada lapisan permukaan sampai kedalaman batas oksigen/H2S (24-26 meter). Pembentukan terumbu terutama ditemukan dari permukaan sampai kedalaman 12 meter di mana bakteri biru-hijau berkembang secara dominan bersama ganggang kerang (coralline algae) Lithoporella sp. Dan ganggang dari genus Peyssonnelia yang kurang dominan.

 

Keterdapatan stromatolit Resen di Satonda dalam danau kawah Motitoi yang alkalin mendukung hipotesis ”Soda Ocean” (Kempe dan Dagens, 1985 – An early soda ocean ? – Chemical Geology 53, p. 95-108; Kempe, 1991 – De oerocean, een sodazee, Natuur en Techniek 59, p. 206-215) yang menyatakan bahwa laut Pra-Kambrium bersifat alkalin dan sangat dijenuhi oleh mineral karbonat. Menurunnya alkalinitas laut dan kejenuhan karbonat dapat menerangkan lenyapnya stromatoporoids pada ujung Paleozoikum.

 

Hal menarik buat kita para ahli geologi adalah pembentukan habitat Satonda yang
unik, yaitu terdapatnya danau kawah gunungapi (Danau Motitoi) yang diisi air laut. Dinding kawah Danau Motitoi curam berupa tebing setinggi 300 meter di atas muka laut, terbuat dari lapisan tuf, lapili, dan bom volkanik, dan ditemukan beberapa retas tiang (dike intrusion). Depresi kawah Satonda diperkirakan terbentuk oleh runtuhan di atas dapur magma gunungapi Satonda akibat letusan 10.000 tahun yang lalu sehingga membentuk kawah. Ke arah selatan, dinding kawah pada suatu waktu kemudian merosot ke arah laut, sehingga tebing kawah di sini hanya setinggi 13 meter di atas muka laut (dari sisi inilah Danau Motitoi mudah dicapai). Struktur dinding yang merosot ini membentuk sistem pertelukan sehingga laut menjorok memasuki wilayah kawah.

Air laut masuk ke danau kawah, menggantikan air tawar yang semula ada. Peristiwa
marine flooding ini terjadi pada 3150 ribu tahun yang lalu, berdasarkan peneraan karbon-14 pada lapisan gambut yang luas yang ditemukan di bawah lapisan karbonat. Penggalian di tepi danau menemukan lapisan-lapisan moluska dan gastropoda serta fauna marin lainnya. Saat laut mundur pada suatu waktu, lapisan2 ini menjadi lapisan penghalang dan kemudian menjadi pemisah permanen danau kawah Satonda dari laut terbuka.

 

Saat ini Danau Motitoi telah kehilangan semua aksesnya ke laut di dekatnya. Akibatnya, air asin Satonda memiliki alkalinitas, pH, dan kejenuhan mineral karbonat yang lebih tinggi daripada laut di sekitarnya. Kondisi ini telah menghilangkan kemungkinan terdapatnya mikrobiota marin pada umumnya, tetapi sebaliknya ditemukan secara berlimpah struktur2 seperti terumbu gampingan yang disusun oleh ganggang merah, serpulids, foram, dan yang paling menakjubkan adalah ditemukannya lembaran-lembaran insitu cyannobacteria yang mengandung kalsit. Morfologi dan struktur mikro terumbu Satonda memiliki mikrobialites (deposit organo-sedimen gabungan struktur lembaran organik yang termineralisasi) yang mirip dengan stromatolit kurun Archean dan Proterozoikum
atau stromatoporoids Paleozoikum (Kazmierczak dan Kempe, 1992 – Modern cyannobacterial counterparts of Paleozoic Wetheredella and related problematic
fossils, Palaios 7, p. 294-304).

 

Pulau Satonda dan danau kawahnya oleh karena itu, merupakan laboratorium
paleo-oseanografik yang sangat menarik yang berkembang pada saat Resen.
Mikrobialit penyusun stromatolitnya mirip dengan mikrofosil stromatolit Pra-Kambrium dan Paleozoikum, yang terjadi pada lingkungan laut hipersalin, alkalin, miskin biota, tetapi kaya mikrobialit gampingan. Danau Motitoi memiliki ciri-ciri laut Pra-Kambrium dan Paleozoikum ini. Menyelam di Danau Motitoi, Pulau Satonda ibarat memasuki mesin atau terowongan waktu yang membawa orang dari Resen ke ratusan-ribuan jutaan tahun yang lalu saat Paleozoikum bahkan Pra-Kambrium. Maka, pulau sekecil Satonda yang belum tentu muncul atau bernama di banyak atlas anak sekolah, ternyata punya status keilmuan yang sangat besar.

 

Sumber : IAGInet / 3 Nov 2007

 

By : Awang Harun satyana

Published in: on November 4, 2007 at 12:05 pm  Komentar (1)  

Terima kasih Suffo….

Perhelatan Suffocation Infecting Indonesia 2007 telah usai. namun kengerian yang diberikan oleh band brutaldeath asal amrik ini masih terasa sampai sekarang. Leher gw pegel – pegel !!!. Kebanyakan headbang seeh..

anyway, acara ini emang asyiik punya, segala skill yang dimiliki para personil Suffo keluar semua demi memuaskan publik metalhead tanah air. Acungan jempol wajib di alamatkan kepada Mipro sebagai EO yang concern mengelar konser metal grup dari luar sana. SELAMAT… SELAMAT… SELAMAT…!!!

Denger denger sih tanggal 2 september 2007 Napalm Death juga akan di boyong kesini dalam rangka Smear Campaign World  Tour 2007, trus November 2007 Black Dahlia Murder yang giliran manggung.

Balik lagi ke leptop, eh..suffocation Infecting Indonesia.. Meskipun panitia agak ngaret dari rencana jam 4 sore, acara di mulai juga jam 5an kali yahh (maap, gak bawa jam ) dengan band pembuka Panic Disorder. Gw cuma sempet nonton 3 lagu terakhir,itupun gak tau judul2nya.Abiss keenakaan di pantai sih, liat ombak, bukan Ombat lhoo!!. Dengan area panggung yang luas, tampak sekali Panic Disorder tidak dapat menguasai panggung dengan baik. Itu terbukti dari minimnya aksi panggung para personilnya. Seharusnya untuk perhelatan seheboh itu, selain diisi dengan  kerapihan bermain juga diimbangi dengan aksi panggung. ini masukan dari gw lho… Diluar aksi panggung kehebatan musick PD jangan di ragukan lagi. Manteb Abiss. Selamat untuk Budi Cs. Ohya..pada saat PD maen,gak ada yang headbang apalagi moshing, nyimpen tenaga kali, buat Suffo.

setelah Magrib, band kedua yang muncul adalah Jasad, band brutaldeath asal Bandung ini memang luar biasa dalam memainkan 5 buah lagu (kalo gak salah). Aksi panggungnya juga biasa aja, tapi para metalhead mulai pemanasan pada lagu kedua. Itu juga karena dihimbau sama Man, vox nya jasad, ” KALOH PADAH DIEMH AJAHH, MENDINGH NONTONH WAYANGH AJAHH !!!” dengan logat Bandungnya yang kental. Serentak para metalhead langsung merengsek ke bibir panggung. Satu hal yang menarik dari Jasad ini, menurut gw, Vox nya dari awal sampai akhir ngerokok terus. Busyeet, apa kagak ancur tuuh tenggorokan!!!

Setelah MC berbasa basi yang basi plus bagiin suvenir dari sponsor,Kumal giliran manggung. band asal medan dan beraliran POLITICAL METAL CORE ini lumayan aksi panggungnya dan metalhead pun lebih giat pemanasan. Dengan membawakan lagu yang bernada kritik sosial, band ini sukses merebut perhatian massa.

Lanjut dengan band berikutnya, Purgatory!! Band dengan 7 personil di panggung ini memang yang paling siap (menurut gw) tampil di panggung. Siap dalam skill maupun aksi panggung. Ini terbukti dengan seluruh personilnya berdandan ala blackmetal dan gak pelit untuk sekedar ber headbang. Intronya yang berupa pembacaan terjamah kitab suci, mampu mendirikan bulu roma, bukan bulu yang lainn !! Disini para metalhead makin panas ber moshing atau sekedar berheadbang. ” Gw merasa baru saat ini Purgatory main pure di depan anak2 metal. Murni!!”  Begitu pernyataan sang Vox di depan para metalhead. Apa artinya ya…???

Opening act terakhir di tutup oleh Ombat Cs, Tengkorak!! Band grindcore asal Ciledug ini mampu menghanyutkan ribuan penonton dengan aksi panggungnya yang brutal, plus ciri khas Ombat yang suka memukul2kan kepalanya. Tapi, kok tumben gak jumpalitan di panggung ?? Jaga fisik yaa.. karena tanggal 15 Agustus 2007 mau pergi Umroh !! gw doain deh biar lancar perjalanannya, amiin…!!! Tapi seperti yang udah2, tiap gw liat Tengkorak manggung, soundnya pasti mendem!! sekali lagi PASTI MENDEM!!! Kenapa Yah?? Apa mungkin ciri  sound Tengkorak emang begitu…

Tibalah giliran Suffocation!! Serentak para metalhead maju kedepan panggung (untung gak ada copet!!), termasuk gw. Nama besar Frank Mullen, sang vokalis, memang  jaminan mutu. Begitu naik panggung, Frank Cs langsung dapat applaus meriah dari metalhead. Setelah basa basi sebentar dan meminta maaf mengenai gagalnya konser mereka di medio Februari 2007, Frank langsung menggebrak dari lagu pertama dan lagu2 berikutnya . Animo metalhead tumpah ruah dalam hingar bingarnya musick deathmetal rasa amrik ini. Sesekali frank menggeleng2kan kepalanya berbarengan dengan lambaian tangan. Uniik sekali gaya itu. Sesekali para penonton juga koor bareng, menyanyikan lagu yang mereka hapal. kalo gw siy cuma bisa headbang disamping panggung bagian tengah. Lumayan dari lagu awal sampe lagu terakhir. Ni.. buktinya masih pada pegel2.

Yang jelas, untuk acara ini gw puasss banget untuk seluruh band yang telah perform di acara ini. thanx to Mipro, Suffocation, Jasad, kumal, Panic disorder, purgatory, tengkorak dan seluruh metalhead  yang menyaksikan Suffocation infecting Indonesia 2007 musick concert.

Kalian telah mempersembahkan kado ulang tahun terbaik untukku !!!!

Published in: on Agustus 14, 2007 at 9:55 am  Komentar (1)  

Fenomena Gempa Dalam di Pantai Utara Jawa

Gempa yang terjadi pada 9 Agustus 2007 kemarin, ternyata menyita perhatian dari banyak pihak, termasuk dari para ahli geologi kita. Mereka berdiskusi tentang gempa dalam ini di milis IAGInet. Segala macam pendapat berserakan dalam diskusi tersebut. Dari hasil diskusi tersebut, saya mencoba merangkum dengan menghilangkan nama peserta diskusi, karena banyaknya tanya jawab, sanggahan maupun opini yang muncul dari peserta diskusi, agar tidak membingungkan dalam membacanya. Tulisan ini hanya sekedar sharing pengetahuan tanpa bermaksud membenarkan atau menyalahkan teori -teori yang dikemukakan. (lebih…)

Published in: on Agustus 14, 2007 at 7:11 am  Komentar (1)  

Maxxnoise Fest 1 Jakarta

Tanggal 8 September mendatang bertempat di Rossy Music Hall, Jl. R.S Fatmawati No. 30 Cilandak Barat – Jakarta Selatan akan digelar kolektifan beberapa band untuk acara “Maxxnoise Fest 1″Nantinya event ini akan menampilkan empat band metal Malaysia dan 7 band Jakarta dan konfirmasi sejauh ini yang akan tampil antara lain:
EVACUATE COWBOYS
FINNISH IRENE
DAMOKIS
NOXA
NEGATION
INLANDER
WYNKEN DELIRIUM
SUAKA
TORTURE INCIDENT
DRIP
BESTIALITY

Acara akan dimulai dari jam 2 siang hingga selesai dengan tiket sebesar Rp.15.000.-
{ Roy Romero – http://www.berontakzine.com}

Published in: on Agustus 13, 2007 at 5:03 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Penerbitan Indeks Harga 100 Saham

Jakarta, 13 Juli 2007

Penerbitan Indeks Harga 100 Saham

Jakarta- Pada Perayaan HUT PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) ke 15 tanggal 13 Juli 2007, BEJ mengumumkan akan meluncurkan Indeks Harga 100 Saham yang tercatat di BEJ pada tanggal 10 Agustus 2007 bertepatan dengan hari ulang tahun Pasar Modal ke 30. Diterbitkannya Indeks Harga 100 Saham ini akan bermanfaat bagi para pemodal dalam mengelola portofolio investasinya dan juga bermanfaat bagi fund manager yang akan menggunakannya sebagai acuan dalam menciptakan kreatifitas (inovasi) pengelolaan dana yang berbasis saham. Proses pemilihan 100 saham mempertimbangkan frekuensi transaksi, nilai transaksi dan kapitalisasi pasar serta kinerja fundamental dari saham-saham tersebut.

Peluncuran Indeks Harga 100 Saham ini akan melengkapi informasi mengenai perkembangan pasar saham pada umumnya dan perkembangan harga masing-masing saham khususnya, serta diharapkan dapat memberikan pedoman bagi pemodal untuk melakukan pilihan investasi di Pasar Modal yang pada akhirnya akan meningkatkan likuiditas transaksi di BEJ.

Demikian untuk diketahui publik.

DIVISI KOMUNIKASI PERUSAHAAN
PT BURSA EFEK JAKARTA
MEDIA CONTACT : FRIDERICA WIDYASARI DEWI
TELP NUMBER . 5150515 Ext. 4300 FAX. 5150330
Email: webmaster@jsx.co.id

Published in: on Juli 24, 2007 at 8:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.